Kopi Senggani Beraroma Unik yang Sedang Populer di Pasaran

Uje Harto - detikFood Senin, 25 Nov 2019 07:30 WIB
Foto: Uje Hartono/detikcom
Banjarnegara - Kopi Senggani dari Desa Pegundungan Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara ini populer di kalangan pecinta kopi. Hasil panen kopi ini dikirim ke berbagai kota besar.

Hingga saat ini, petani kopi dengan jenis arabika di Desa Pegundungan selalu kewalahan memenuhi permintaan pasar. Rata-rata, setiap bulannya jumlah permintaan sampai 5 kwintal. Sedangkan saat panen baru sekitar 2 kwintal setiap bulan.

"Kalau permintaan sebenarnya sudah banyak, bahkan kami sampai kewalahan. Kalau rata-rata setiap bulan kopi dari Desa Pegundungan baru 2 kwintal, padahal permintaan sampai 5 kwintal lebih," kata Anam, salah satu petani kopi di Desa Pegundungan, Minggu (24/11/2019).


Foto: Uje Hartono/detikcom


Anam mengatakan, sebenarnya sudah ada 43 hektar lahan di Desa Pegundungan yang ditanami kopi. Namun yang saat ini sudah bisa dipanen, baru setengahnya.
"Sebelumnya petani di sini menanam cabe. Sekarang lambat laun petani sudah mulai beralih ke kopi. Selain harga stabil juga untuk konservasi. Karena tanah di sini itu berbukit-bukit dan rawan bencana tanah longsor," terangnya.

Banyaknya permintaan kopi Senggani ini karena memilki rasa yang khas. Kopi yang ditanam di ketinggian 1300 mdpl ini memiliki rasa gula aren meskipun tanpa dicampuri gula.

"Menurut para pecinta kopi, rasa kopi Senggani dari Desa Pegundungan ini seperti ada campuran gula aren," kata dia.
Menurut nya selain suhu yang dingin untuk menjaga cita rasa kopi Senggani dilakukan proses pasca panen selama satu bulan. Salah satunya saat melakukan pengeringan.

Foto: Uje Hartono/detikcom


"Pengeringan ini tidak dijemur langsung. Kopi ditempatkan dijaring di tempat yang sudah ditutup dengan plastik. Maksudnya adalah agar panasnya lebih merata," paparnya.

Petani biasanya menjual dalam bentuk green beans. Untuk harga jualnya, kopi Senggani dari Desa Pegundungan dijual antara Rp 90.000 sampai Rp 100.000 per kilogram.

Foto: Uje Hartono/detikcom


Kepala Desa Pegundungan Murti, mengatakan kopi senggani mulai ditanam sejak 2012 lalu. Sebelumnya petani di desa Pegundungan sebagian besar menanam sayuran.

"Awalnya untuk konservasi karena kopi tidak perlu mengolah tanah setiap selesai panen. Pada saat pertama memang petani susah untuk beralih ke kopi. Karena sudah terbiasa menanam sayur. Tetapi sekarang sudah semakin banyak yang menanam kopi," jelasnya.

Apalagi, dengan beralihnya jenis tanaman ini sudah mulai berdampak pada sekotor ekonomi warga dibanding sayuran. Pasalnya, harga kopi lebih stabil dibanding harga sayuran.

"Harga cabe memang kadang tinggi tetapi kadang sangat rendah. Kalau kopi ini stabil dan tidak mudah busuk asal bisa menyimpannya dengan baik," terangnya.



Simak Video "Menjajal Kedai Kopi Milik Anak Ahok yang Indonesia Banget"
[Gambas:Video 20detik]
(odi/odi)