Nikmatnya Makan Sego Gurih Diiringi Gamelan Sekaten

Vattaya Zahra - detikFood Sabtu, 09 Nov 2019 06:47 WIB
Foto: Vattaya Zahra/detikcom Foto: Vattaya Zahra/detikcom
Yogyakarta - Keraton Yogyakarta menggelar tradisi Sekaten untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam gelaran itu bisa dinikmati nasi gurih berlauk komplet tang sedap.

Selama 7 hari dua buah gamelan Sekaten, Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga ditabuh di Masjid Gede Kauman.Bersamaan hadirnya gamelan Sekaten, belum lengkap rasanya menyantap nasi gurih atau sego gurih. Sego gurih merupakan makanan khas setahun sekali saat sekaten digelar.

"Saya mulai berjualan sego gurih di sini sejak tahun 1980 hingga sekarang," ujar Wastini (57), salah satu penjual sego gurih di halaman Masjid Kauman pada Jumat (8/11/2019).

Wastini mulai memasak sego gurih sehabis subuh bersama dua orang temannya.

"Pertama-tama beras dikukus hingga pulen, di saat yang bersamaan santan direbus hingga mendidih dan dicampurkan ke nasi secukupnya," jelas Wastini. "Saya memasak 4 hingga 5 kg beras setiap harinya," lanjut Wastini.

"Kalau mencampur nasi dan santan itu harus pakai perasaan, agar rasanya pas dan tidak terlalu lembek," ungkap Wastini. Produksi sego gurih dilakukan di tempatnya berjualan dan mulai dijajakan pukul 11.00 WIB hingga 24.00 WIB.


Nikmatnya Makan Sego Gurih Diiringi Gamelan Sekaten Foto: Vattaya Zahra/detikcom


Rasa sego gurih sebenarnya tidak jauh berbeda dengan nasi uduk. Perbedaannya terletak pada santan yang dicampur dengan daun pandan, salam dan serai sehingga lebih wangi.

Satu porsi sego gurih dilengkapi dengan lauk pauk seperti ayam ingkung suwir, telur dadar yang diiris kecil-kecil, udang rese, kacang kedelai hitam, kacang tanah, dan sambal goreng krecek. Rasa gurih dan perpaduan santan yang pas, membuat sego gurih menjadi santapan yang sayang untuk dilenwatkan ketika Sekaten berlangsung.

Nikmatnya Makan Sego Gurih Diiringi Gamelan Sekaten Foto: Vattaya Zahra/detikcom


Sembari menyantap sego gurih di halaman Masjid Kauman, pengunjung mendapatkan bonus alunan gamelan Sekaten, yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga yang ditabuh oleh para abdi dalem Keraton Yogyakarta. Gamelan tersebut terletak di Bangsal Pagongan Kidul dan Bangsal Pagongan Lor di halaman Masjid Kauman. Mitos yang beredar, menyantap sego gurih sambil mendengarkan gamelan Sekaten, dapat menyebabkan awet muda.

Tidak semua penjual sego gurih di halaman Masjid Kauman menyediakan meja dan kursi untuk pengunjungya. Wastini mengusung konsep lesehan karena dianggap lebih praktis dan pengunjung bisa lebih santai. Sego gurih yang dijajakan Wastini dibanderol dengan harga Rp13.000.

Wastini mengaku, pengunjung mulai ramai sekitar pukul 16.00 WIB ketika hawa sudah tidak terlalu panas.

Nikmatnya Makan Sego Gurih Diiringi Gamelan Sekaten Foto: Vattaya Zahra/detikcom


Berbeda dengan Wastini, Santoso (54) berjualan sego gurih di pinggir jalan Alun-alun Utara Yogyakarta. Ia nembanderol sego gurih dengan harga Rp 8.000. Satu porsi sego gurih Santoso tidak memiliki perbedaan komposisi dan jumlah lauk pauk milik Wastini. Juga tidak ada perbedaan rasa yang kentara pada kedua sego gurih.

Namun, jika membeli sego gurih di pinggir jalan, pengunjung tidak dapat merasakan sensasi manyantap sego gurih sembari mendengarkan alunan gamelan Sekaten. Belum lengkap rasanya ketika hal tersebut dilewatkan begitu saja. Pengunjung dapat bebas memilih sego gurih dengan variasi harga selama Sekaten berlangsung hingga Sabtu (9/11/2019).



Simak Video "Nikmatnya Kue Kolmbeng, Sederhana namun Bikin Kangen"
[Gambas:Video 20detik]
(odi/odi)