Berbuka dengan Aneka Gethuk Legit Gurih di 'Gethuk Campur' Bojonegoro

Ainur Rofiq - detikFood Jumat, 10 Mei 2019 10:00 WIB
Foto: Ainur Rofiq/detikcom Foto: Ainur Rofiq/detikcom
Jawa Timur - Jelang berbuka puasa warga Bojonegoro juga berburu takjil yang ramai di jajakan para pedagang kaki lima. Primadonannya jajan pasar tradisional yang legendaris.

Salah satu kue yang diminati menjadi takjil untuk berbuka puasa yakni aneka jajanan Jawa yang legendaris terbuat dari bahan utama singkong dan ubi. Diantara gethuk singkong, gethuk lindri, gethuk telo, Gendar, Lupis, pleret, Cenil, Saplak, putri Ayu, klepon, dan jongko.

Untuk mendapatkan jajanan ini di Bojonegoro saat ngabuburit tiba sangatlah mudah. Karena banyak penjual jajanan tradisional ini telah mangkal puluhan tahun di depan pasar kota Bojonegoro. Dengan menggunakan gerobak dorong , Aneka jajanan murah meriah bisa kita nikmati di warung " Gethuk Campur " milik mbak Wiwin (40) ini.

Berbuka dengan Aneka Gethuk Legit Gurih di 'Gethuk Campur' BojonegoroFoto: Ainur Rofiq/detikcom

Aneka makanan gethuk yang dipotong kotak- kotak dan kue beraneka warna itu dijual dengan dua harga yakni 3.500 rupiah dan 5.000 rupiah per porsinya. "Untuk harga kita bedakan menjadi dua, yakni 3500 dan 5000, karena tempatnya yang tidak sama, serta jumlah isinya" tutur penjual Gethuk Wiwin kepada detikcom.

Bentuknya yang warna warni dan kenyal dipadu dengan parutan kelapa serta sirop gula Jawa rasanya jadi manis dan gurih. "Rasanya itu gurih dan manis ya, apalagi ditambah sirop gula Jawa. Kita jualnya campur bisa, per kue juga bisa." Ucap penjual getuk Wiwin.

Berbuka dengan Aneka Gethuk Legit Gurih di 'Gethuk Campur' BojonegoroFoto: Ainur Rofiq/detikcom

Dalam ramadhan kali ini, Wiwin (40) berjualan mulai pukul 16.00 wib, dan tidak perlu waktu lama ia berjualan jajanan ini karena pembelinya sangat banyak. "Alhamdulillah paling habis magrib kita sudah habis jualannya, setiap hari kita masak aneka kue ini butuh 20 hingga 25 kilogram singkong," imbuhnya.

Sementara itu, salah satu pembeli gethuk Campur yang sering datang di warung ini yakni Icha (25). Icha sangat doyan dengan kuliner tradisional ini, ia rela menempuh 15 kilometer dari rumahnya di kecamatan Balen, untuk beli gethuk campur ini. "Rumahnya Balen, ya seneng ama gethuknya, ini mau buat camilan di rumah sama keluarga. Dua hari sekali biasanya ke sini," terang Icha pembeli gethuk.

(adr/adr)