Ini Sebabnya Kopi Tambora yang Unik Sukses Ditanam Sejak Masa Kolonial

ADVERTISEMENT

Ini Sebabnya Kopi Tambora yang Unik Sukses Ditanam Sejak Masa Kolonial

Faruk Terkini - detikFood
Selasa, 28 Agu 2018 11:40 WIB
Foto: dok. detikFood
Dompu - Kopi Tambora dikenal karena keunikan rasanya. Budaya menanam kopi di pegunungan Tambora sudah dilakukan sejak masa penjajahan Belanda.

Bertani Kopi bukanlah suatu pekerjaan yang sulit bagi warga yang ada di lereng kaki Gunung Tambora. Karena hasilnya sangat menjanjikan. Tak heran jika warga sekitar kawasan gunung berapi yang berdiri di antara dua wilayah (Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) itu mayoritas berkebun Kopi.

Bertani kopi di lereng Gunung Tambora bukanlah kebiasaan baru, kegiatan ini sudah berlangsung sejak akhir Abad ke 19. Lahan tempat ditanamnya kopi ini yang berada di lereng Gunung Tambora, sehingga warga pun menamakan Kopi yang dihasilkan adalah Kopi Tambora.

Lahan yang digunakan pun bukan hak milik, melainkan hanya numpang dari lahan milik negara. Karena masuk dalam kawasan Hutan Negara, petani hanya menumpang (Tumpang Sari) lahan kawasan tersebut dengan syarat tidak mengganggu kayu-kayu besar. Satu orang warga hanya bisa menempati lahan 2 hingga 6 hektar.

Ini Sebabnya Kopi Tambora yang Unik Sukses Ditanam Sejak Masa KolonialFoto: dok. detikFood

Lahan yang digarap hingga mencapai 1.200 Meter sari Permukaan Laut (MDPL). Dengan spesifikasi, Jenis Kopi Robusta Tambora ditanam di kawasan spesifik dengan ketinggian di atas 350 - 750 MDPL dan Kopi Jenis Arabika ditanam di atas ketinggian 950 -1.200 MDPL.

Dalam kesehariannya, petani kopi biasanya menjaga dan merawat kebun dengan memperhatikan tamanan semak belukar, menjaga dari serangan Hama binatang liar yang ada di hutan. Ketika masuk musim panen, kopi yang akan dipanen tentunya akan diperhatikan secara penuh. Kopi harus benar-benar matang atau biji kopi harus berwarna merah kecokelatan atau merah buah ceri. Hal tersebut dilakukan agar kopi yang dihasilkan sempurna dan menjaga ciri khas yang menjadi kebanggannya.

Masyarakat setempat telah mengelolah kopi sejak jaman Belanda. Kegiatan pengelolahan secara tradisi lokal telah turun temurun sejak saat itu. Pengaruh dan kebiasaan pengelolaan pada jaman belanda itu sehingga mutunya tetap di pertahankan sampai saat ini. Tak heran jika kopi Tambora terus mempesona karena kenikmatan cita rasanya yang khas sejak jaman Belanda.

Kopi Tambora memiliki rasa yang berbeda dengan kopi-kopi yang ada di daerah lain di Indonesia. Kopi Tambora memiliki aroma yang khas dan rasanya jauh lebih asam dari kopi pada umumnya. Itu karena Kopi Tambora ditanam di daerah vulkanik, sehingga tingkat keasamannya jauh lebih tinggi.

Kopi yang sudah dipanen, biasanya terlebih dahulu dilakukan proses pengeringan dengan cara menjemur hingga berwarna cokelat kehitaman. Proses pengeringan biasanya berlangsung berhari-hari tergantung kondisi cuaca panas matahari.

Ini Sebabnya Kopi Tambora yang Unik Sukses Ditanam Sejak Masa KolonialFoto: dok. detikFood

Dalam proses penjualannya, usai proses pengeringan para petani biasanya menjual kepada para tengkulak dengan harga yang variatif, tergantung dari kualitas biji Kopi. Terkadang ada juga tengkulak yang langsung mendatangi petani kopi.

"Untuk harga biji kopi campuran yang sudah dikeringkan itu, saat ini bisa mencapai Rp 25-30 Ribu per kilogram. Sementara untuk kopi spesial yang sudah dikeringkan bisa mencapai Rp 35-45 ribu," ungkap petani kopi Pancasila, Desa Tambora, Kecamatan Pekat, H. Yahya, pada detikcom Sabtu (24/08/2018).

Untuk menjaga kualitas dan cita rasa, salah satu Owner Kopi Tambora yang ada di Kabupaten Dompu adalah King Coffe Tambora Produksi. Mereka adalah sebuah kelompok yang mengembangkan Kopi Tambora dengan sistim pengeloahan tradisioanl.

Dalam prosesnya, biji kopi diolah dengan cara yang masih tradisional yaitu menggoreng (Roasting) dengan menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat dengan perapian dari kayu bakar. Untuk menghasilkan bubuk kopi, kelompoknya telah menggunakan mesin penggilingan kopi.

Sementara untuk proses sortir buah atau biji kopi, dilakukan dengan sorti pake air (basah), manual (basa-kering) dan menggunakan mesin jika bijinya kering. Dua jenis kopi yang dihasilan oleh kelompok produksi ini, Robusta dan Arabika.

Ini Sebabnya Kopi Tambora yang Unik Sukses Ditanam Sejak Masa KolonialFoto: dok. detikFood

"Produksi tetap kita adalah bubuk kopi Rebusta (Chocoalate Cocoa) yang cocok untuk Kopi Bland (Espresso) yang memiliki aroma yang khas. Disisi keistimewaan kopi tambora adalah, sejarah kopi dan gunung tamboranya," ungkap Owner King Coffe Tambora, Kemal Helmi.

Pada proses produksi kopi tambora memiliki kendala pada tidak adanya alat untuk memproduksi (Mesin Roasting Been). Selain itu, terdapat pula kendala dalam membuka akses ke luar untuk meningkatan pasar luar daerah Dompu baik Nasional maupun Internasional.

Meski begitu, dalam memperkenalkan produknya yang diberina nama Ompu Coffe Tambora, marketing prodak menerapkan sistim face to face atau bertatap muka antar produsen dan konsumen. Sehingga pelanggan akan diberi edukasi tentang sejaarah Kopi Tambora hingga sejrah meletusnya gunung Tambora.

Dengan sistem itu, status King Coffe Produksi dengan brand Ompu Coffee adalah satu-satunya prodak di Dompu yang masuk dalam prodak unggulan NTB. Itu dibuktikan dengan diterimanya penghargaan dari Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI) Indonesia dan Gubernur NTB pada tahun 2017 lalu. Omset yang mampu dihasilkan oleh King Coffe Produksi ini mencapai Rp 5 juta per bulan.

"Brand Sudah skala nasional. Untuk kegiatan kopi, Alhamdulillah tetap mewakili NTB dalam acara apapun yang mentangkut kopi baik dalam lomba atau festival maupun dalam kegiatan lelang kopi di Indonesia," Kata Marketing Ompu Coffe, Ramlin Steken.

Ini Sebabnya Kopi Tambora yang Unik Sukses Ditanam Sejak Masa KolonialFoto: iStock

Untuk dapat menikmati Kopi Tambora, tak perlu pergi langsung ke rumah produksinya yang berlokasi di Desa Tambora, Pekat. Karena kini, Kopi Tambora sudah di jajakan di beberapa Cafe Kopi yang ada di wilayah perkotaan Dompu. Namun tidak semua owner café bisa meraciknya, ada beberapa Café khusus yang menjual racikan kopi Tambora.

Salah satunya adalah Maronci Coffee yang berlokasi di Selaparang Matua. Ditempat ini, pecinta kopi dapat menikmati kopi tambora racikan yang dilakukan oleh ahlinya (Barista). Jenis kopi yang dijual adalah Kopi Tambora jenis Robusta.

"Utamanya kopi tambora yang kita jual. Bagi pecinta kopi tentu akan tahu rasa kopi tambora yang khas. Kalau hanya penikmat, mereka pasti biasa-biasa saja dan akan menilainya seperti kopi pada umumnya," kata pemilik Café, Erlam Maronci.

Dalam sekali membeli kopi, pemilik cafe meboyong 70 hingga 100 Kilogram biji kopi, baik dari petani maupun di rumah produksi. Biji kopi yang sudah kering kemudian di roasting sendiri dengan menggunakan alat modern. Jumlah tersebut bisa laku dalam waktu dua bulan.

"Kualitas biji kopi yang kami ambil tentunya yang terbaik, buah kopi yang dipetik dalam keadaan merah seperti buah ceri. Karena kami tidak ingin mengecewakan pelanggan," ungkapnya.


Saksikan juga video 'Melihat Proses Pengolahan Kopi di Pabrik Berusia Seabad':

[Gambas:Video 20detik]

(adr/odi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT