Perusahaan Cokelat Ini Habiskan Rp. 13.8 Triliun untuk Atasi Perubahan Iklim

Sonia Basoni - detikFood Rabu, 06 Jun 2018 11:56 WIB
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Perusahaan cokelat terbesar di dunia ini habiskan biaya lebih dari Rp 13.8 trilliun, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Serta memperbaiki perubahan iklim.

Mars, sebagai produsen cokelat asal Inggris, sekaligus produsen dari permen karet Wrigley. Telah membuat target untuk mencegah perubahan iklim, dengan mengurangi gas rumah kaca hingga ke 0 di tahun 2040 nanti. Mereka juga tengah berusaha mengurangi sekitar 30% dari perubahan iklim saat ini.

Baca Juga: 9 Makanan Ini Jadi Langka dan Mahal Akibat Perubahan Iklim (1)
Perusahaan Cokelat Ini Habiskan Rp. 13.8 Triliun untuk AtasiPerubahan IklimFoto: Istimewa
Mereka menghabiskan lebih dari $1 miliar USD (Rp. 13.8 Triliun), untuk memperbaiki lingkungan sekaligus meningkatkan keuntungan perusahaan.

"Ada kasus bisnis yang sangat konkret untuk ini. Kita akan mendapatkan pengembalian dana, miliaran kali lebih banyak dari yang kita keluarkan," tutur Barry Parkin kepada Food and Wine (05/06), selaku Chief Procurement and Sustainability di Mars.

Perusahaan cokelat ini masih dipegang oleh keluarga pendiri Mars, dan menghasilkan setidaknya $35 USD (Rp. 460 Triliun) pada tahun 2016. Mars memiliki 85.000 karyawan. Tidak hanya cokelat dan permen, Mars juga memproduksi makanan pedas, minuman, hingga produk perawatan hewan.

Sebenarnya perhatian tentang perubahan iklim ini, dimulai ketika The Paris Climate diselenggarakan pada tahun 2015 silam. Lebih dari 200 negara mengirimkan laporan perubahan iklim yang terus meninggi. Sehingga banyak perusahaan besar mulai memperhatikan tentang perubahan iklim, termasuk Mars.
Perusahaan Cokelat Ini Habiskan Rp. 13.8 Triliun untuk AtasiPerubahan IklimFoto: Istimewa
Dana $1 Miliar USD ini nantinya akan dialokasikan ke berbagai tempat. Seperti untuk penggunaan air dan listrik yang lebih hemat, lalu mengusahakan agar bahan-bahan produk makanan dibeli langsung dari petani tanpa menggunakan bahan buatan.

"Ini merupakan akhir dari era komoditas. Sifat dari komoditas di mana-mana sama, Anda membeli barang sesuai harga, tanpa pernah bertanya atau tahu dari mana barang itu berasal. Kini, itu semua tidak bisa diterima lagi," lanjut Barry.

Kini Mars tengah berkerja untuk mengurangi paparan terhadap resiko lingkungan, sosial, serta pengelolaan atau ESG. Karena hampir tidak mungkin untuk melacak semua bahan makanan yang digunakan. Menurut Barry, perusahaannya membeli 0,2% minyak sawit di dunia, dan mengambilnya dari ribuan pabrik.
Perusahaan Cokelat Ini Habiskan Rp. 13.8 Triliun untuk AtasiPerubahan IklimFoto: Istimewa
Mars memulai program ini untuk membantu meningkatkan hasil panen, dari ratusan ribu peternakan dan perkebunan yang memproduksi bahan makanan yang Mars butuhkan. Seperti Kakao hingga vanilla.

Selain ini merupakan hal yang harus dilakukan. Barry menambahkan bahwa kegiatan ini akan memberikan feedback yang baik untuk Mars.

"Kini sudah ada harga untuk karbon, dan mungkin harganya akan terus meningkat. Dengan 26 juta ton karbon dioksida di jaringan kami, kami akan mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat dari dana yang kami keluarkan saat ini." pungkas Barry.

Baca Juga: Perubahan Iklim Ternyata Membuat Rasa Biji Kakao Lebih Enak?


(sob/odi)