Empuk Mantap! Horok-horok Makanan Unik Khas Jepara

Wikha Setiawan - detikFood Rabu, 07 Mar 2018 10:02 WIB
Foto: Wikha Setiawan/detikcom Foto: Wikha Setiawan/detikcom
Jepara - Di Kabupaten Jepara, ada makanan unik yang tak ada di daerah lain. Makanan ini enak dimakan dengan bakso, pecel, gulai, dan lainnya. Empuk gurih!

Horok-horok, orang Jepara menyebutnya. Makanan ringan yang terbuat dari tepung aren sangat mudah dijumpai di warung-warung, sehingga horok-horok menjadi salah satu makanan khas. Meski masih banyak dipasarkan dan mudah dijumpai, tidak banyak perajin horok-horok yang masih berproduksi.

Salah satunya adalah Musaroh (55), warga Dukuh Tuk Wesi, Desa Bugel, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara. Ia sudah menekuni usaha membuat horok-horok sejak 20 tahun silam. Hingga kini, tangan terampilnya masih mampu menghasilkan makanan tersebut.

"Saya menjadi perajin horok-horok sejak anak saya masih kecil, dan ibu saya tak mampu lagi membuat serta berjualan penganan itu. Sekitar 20 tahun yang lalu," ujarnya ditemui detikcom dirumahnya, Rabu (7/3/2018).

Empuk Mantap! Horok-horok Makanan Unik Khas JeparaFoto: Wikha Setiawan/detikcom

Ia pun menuturkan cara pembuatan horok-horok. Menurutnya, tahapan memasak penganan itu bisa memakan waktu berjam-jam. "Masak pati arennya pun tidak cukup sekali, namun dua kali. Olahan pertama setengah jadi, Kemudian jika hendak dijual, maka bahan tadi ditanak untuk kedua kalinya," lanjutnya.

Selain itu, kebersihan saat pembuatan horok-horok sangatlah penting. Menurutnya, air yang digunakan untuk menanak tidak boleh kotor ataupun tercampur dengan bekas pengolahan ikan. "Kalau tidak bagus kualitasnya sehari atau dua hari sudah basi. Namun kalau patinya bagus, bisa tahan sampai tiga hari," paparnya.

Empuk Mantap! Horok-horok Makanan Unik Khas JeparaFoto: Wikha Setiawan/detikcom

Dari sisi harga, untuk satu kwintal pati aren mentah ditebus dengan biaya Rp 550 ribu. Sedangkan untuk bahan yang setengah jadi (telah digoreng) ia membelinya seharga Rp 6.000 per kilogram. Dalam sehari, ia mampu membuat sekitar 10 sampai 20 kilogram horok-horok.

"Saya diwarisi orang tua bagaimana cara membuat horok-horok. Sekarang sudah mulai jarang perajin di sini, padahal dulunya banyak," paparnya.

Sementara Khotiyem (40) pedagang pecel di Desa Teluk Wetan, Kecamatan Welahan mengaku selalu menyediakan horok-horok di warungnya. Kenikmatan horok-horok, menurutnya, juga karena disajikan secara tradisional, yakni dibungkus dengan daun jati atau daun pisang.

"Kalau orang di sini sudah pasti beli pecel pakai horok-horok. Sudah akrab dengan lidah orang sini. Rasanya kenyal agak asin sedikit. Bisa juga dicampur dengan bakso, gulai dan makanan lain," tandasnya. (odi/odi)