Kuliner Pusaka Bondan Winarno

Gurih Renyahnya Lawa Jantung Pisang Khas Palopo

Bondan Winarno - detikFood Sabtu, 13 Jan 2018 06:15 WIB
Foto: detikfood Foto: detikfood
Jakarta - Jantung pisang menjadi sayuran eksotik di berbagai daerah di Asia. Selain dibuat sayur berkuah santan, ada racikan urap bunga pisang khas Palopo.

Sangat boleh nomenklatur lawa di Palopo dan Luwu ini sama dengan lawar di Bali. Soalnya, bila melihat bentuk sajiannya, lawa dan lawar mempunyai banyak kemiripan.

Lawa maupun lawar sama-sama memakai sayur, parutan kelapa, serta tambahan protein. Secara geografis, Palopo maupun Luwu sangat dekat. Keduanya berada di Sulawesi Selatan bagian Utara, dan berbagi tapal batas.

Dulu Kabupaten Luwu merupakan kabupaten terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan, beribukota Palopo. Setelah pemekaran wilayah, dibelah menjadi dua kabupaten. Berbeda lagi dengan Luwuk di Kabupaten Banggai yang masuk Provinsi Sulawesi Tengah.

Tidak heran bila masakan Palopo dan Luwu pun sangat mirip. Di Makassar, misalnya, masing-masing kabupaten ini "diwakili" oleh satu rumah makan yang sama-sama memakai nama Aroma.

Gurih Renyahnya Lawa Jantung Pisang Khas PalopoFoto: detikfood

Yang satu Aroma Luwu, yang lain bernama Aroma Palopo. Lawa adalah masakan sejenis urap di Jawa, atau anyang di Sumatra, yaitu sayur-mayur diurap dengan parutan kelapa berbumbu, dan kadang-kadang direnca dengan satu atau lebih jenis protein.

Dalam hal lawa jantung pisang yang khas Palopo, sayurnya hanya dari jantung pisang (mentah, atau kadang-kadang disiram air panas), dicampur dengan ikan mairo (teri basah) yang juga mentah. Ikan mairo dari laut ini sama sekali tidak menimbulkan aroma amis. Menambahkan protein ke dalam lawa atau urap memang merupakan tradisi luar Jawa.

Di Jawa – sekalipun sebetulnya urap dapat dicampur dengan suwiran ayam – tetapi urap selalu murni sayur-mayur. Tetapi, di Bali, lawar selalu direnca dengan berbagai jenis daging (ayam atau babi dan kulit babi) maupun berbagai jenis protein laut (seperti cumi-cumi lengkap dengan tintanya). Lawa dengan protein mestinya dapat lebih dipromosikan untuk meningkatkan asupan gizi bagi masyarakat Indonesia.

Berbeda dengan urap di Jawa yang memakai kelapa parut mentah dibumbui, lawa memakai kelapa parut yang dibumbui dan kemudian disangrai. Karenanya, lawa terasa lebih kriuk mirip anyang di Sumatra.

Gurih Renyahnya Lawa Jantung Pisang Khas PalopoFoto: Istimewa

Karena di-finish dengan perasan limau kasturi (disebut lemon cui di Manado), maka lawa jantung pisang ini terasa sangat segar. Biasanya, lawa tidak dimakan dengan nasi, melainkan dengan ruji atau dange – semacam sagu bakar di Maluku.

Ruji ini bentuknya mirip gendar atau lempeng di Jawa, tetapi lebih tebal dan padat – tidak crunchy. Makan lawa jantung pisang dengan ruji sungguh merupakan pengalaman makan yang unik dan mengesankan. Top markotop! (odi/odi)