Para Barista Berbikini Ini Perjuangkan Hak Mereka untuk Menyajikan Kopi

Regita Lorena - detikFood Jumat, 15 Sep 2017 13:32 WIB
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Beberapa gerai di kota Everett berinisiatif mempekerjakan barista berbikini guna tingkatkan penjualan. Karena dinggap kurang pantas, kota ini melarang barista berbikini.

Di seberang Pacific Northwest, wilayah yang terkenal dengan kopinya, ada puluhan gerai espresso drive-through dengan nama-nama seperti "Twin Perks," "Peek A-Brew," dan "Java Jigglers."

Pelanggan seakan tertarik dengan apa yang disebut sebagai "Coffee with a view". Ketika mereka berhenti di jendela drive-through, kopi mereka dilayani oleh "bikini barista" dengan pakaian yang minim.

Para Barista Berbikini Ini Perjuangkan Hak Mereka untuk Menyajikan KopiEspresso drive-through yang dijaga oleh barista berbikini. Foto: Istimewa

Barista berbikini ini picu kehebohan di beberapa kota, dengan penduduk dan pejabat setempat yang mengeluh bahwa pakaian yang dipakai barista tersebut tidak sesuai.

baca juga : Gerai Kopi dengan Barista Berbikini Picu Kontroversi di Washington

Dilansir dari The Washington Post (12/9), bulan lalu, kota Everett, Wash, Sekitar 25 mil sebelah utara Seattle, melarang pemakaian bikini di toko-toko drive-through di kota tersebut. Mereka mengharuskan para barista setidaknya mengenakan celana pendek dan tank top di tempat kerja. Larangan ini dibuat karena dianggap bisa menyebabkan kejahatan baru yang memicu perilaku cabul.

Karena melarang, tujuh "bikini barista" di kota itu dan pemilik salah satu gerai warung kopi akhirnya menggugat Everett. Mereka mengatakan bahwa peraturan tersebut melanggar hak konstitusional mereka untuk mengekspresikan diri secara bebas melalui pakaian mereka. Para wanita dan pengacara mereka berpendapat bahwa undang-undang baru itu tidak jelas dan ambigu, dan secara tidak adil mendiskriminasikan perempuan.

"Kota ini tahu hanya wanita yang bekerja sebagai bikini barista, dan sengaja menargetkan wanita melalui sebuah peraturan," kata Derek Newman, pengacara barista.

Barista tersebut mengungkapkan dalam tuntutan hukumnya bahwa dengan memakai bikini, mereka bisa mengekspresikan pesan "outgoing, friendly dan independent", yang membuat pelanggan mereka lebih nyaman daripada di kedai kopi lainnya. Pakaian mereka yang minim membuat percakapan lebih lancar, yang "tidak akan pernah terjadi di Starbucks," kata seorang barista dalam sebuah pernyataan dalam tuntutan hukum tersebut.

Barista seksi berbikini.Barista seksi berbikini. Foto: Istimewa

"Barista mengungkapkan pesan kebebasan, pemberdayaan, keterbukaan, penerimaan, pendekatan, kerentanan, dan individualitas. Mengenakan bikini di tempat kerja memungkinkan barista untuk membuka percakapan dengan pelanggan tentang citra tubuh dan kepercayaan diri yang tidak mungkin dilakukan oleh barista yang menggunakan pakaian lain," isi dari gugatan tersebut.

Seorang juru bicara mengatakan kepada Associated Press bahwa dewan kota tersebut tidak memiliki komentar mengenai tuntutan hukum tersebut.

Ketika membuat peraturan larangan akan bikini, dewan kota menulis bahwa mereka telah menemukan bukti "berkaitan dengan dampak buruk dari perilaku bikini barista yang berdiri dan berpakaian dengan cara yang ketat dan hal ini terkait dengan hiburan dewasa atau situasi orang dewasa."

Dewan juga menuliskan bahwa, hal ini bisa memberikan "kesempatan untuk barista yang berpakaian minim dengan mudah melakukan hubungan seksual dengan pelanggan."

Tuntutan barista tersebut untuk memberlakukan peraturan dengan benar, polisi harus menentukan apakah seorang wanita mengekspos "lebih dari setengah bagian payudaranya."

Jika pemilik melanggar peraturan baru sebanyak tiga kali, gerainya bisa ditutup. Seorang wanita yang menampilkan lebih dari 25 persen area payudaranya atau "bagian bawah celah duburnya adalah penjahat yang akan menghadapi hukuman setahun di penjara dan denda $ 5.000 (Rp. 66jt)," gugatan tersebut menyatakan.

"Ini bukan tentang bikini, tapi ini melanggar kebebasan sipil kita," kata Schuyler Lifschultz, yang telah mengatur upaya untuk melawan larangan bikini.

Salah satu barista yang menggugat, Liberty Ziska, 25, bekerja di "Hillbilly Hotties" yang ada di Everett. Dia telah bekerja sebagai bikini barista selama hampir satu dekade. "Saya tidak ingin kesejahteraan," kata Ziska.

Pekerjaan tersebut memungkinkan dia untuk merawat ketiga anaknya, usia 5 tahun dan lebih muda di siang hari, dan bekerja pada malam hari saat suaminya berada di rumah. Ini juga memberi dia lebih banyak tip daripada rata-rata pekerjaan barista.

Para Barista Berbikini Ini Perjuangkan Hak Mereka untuk Menyajikan KopiFoto: Istimewa

Sejak larangan bikini mulai berlaku minggu lalu, Ziska menerima lebih sedikit tip. "Ini merupakan serangan terhadap wanita dan sebuah serangan terhadap hak-hak kita. Kami akan terus berjuang," kata Ziska.

Jovanna Edge, juga selaku penggugat dan pemilik rantai bikini barista, mengatakan bahwa sekitar 80 persen karyawannya adalah ibu tunggal, dan banyak di antara mereka adalah siswa.

"banyak gadis dini, dan begitulah cara mereka mencari nafkah. Mereka anggota masyarakat yang baik dan terhormat, dan mereka diperlakukan seperti penjahat," kata Edge. ""

Ini bukan kali pertama bikini barista Everett menjadi kontroversi. Pada tahun 2009, sejumlah karyawan perempuan kopi lokal harus menghadapi tuduhan prostitusi.

Pada hari undang-undang baru mulai berlaku, Edge memberi karyawannya konstum polisi "seksi" untuk dikenakan.

Baca juga : Wouuw! Barista di Kedai Kopi Ini Berbikini (lus/odi)