Ini 10 Fakta Dibalik Mitos Makanan yang Ramai Beredar di China (2)

Ini 10 Fakta Dibalik Mitos Makanan yang Ramai Beredar di China (2)

Maya Safira - detikFood
Rabu, 26 Apr 2017 17:44 WIB
Ini 10 Fakta Dibalik Mitos Makanan yang Ramai Beredar di China (2)
Foto: iStock
Jakarta - China mengenal banyak mitos terkait makanan. Tentu diantaranya ada yang tidak benar. Ini fakta dibalik mitos makanan yang beredar di sana.

Ada banyaknya rumor palsu seputar makanan, The Beijing News mengeluarkan sederet daftar mitos makanan di China yang ada selama bertahun-tahun. Mereka membongkar fakta dari mitos seperti pemakaian plastik dalam pembuatan bihun dan lainnya. Berikut paparannya seperti diberitakan The Beijinger.

6. Klorin dari air bisa sebabkan kanker

Foto: iStock
Mitos: Anda harus menggunakan air matang untuk mengukus makanan. Jika tidak, klorin dari air keran yang tidak direbus bisa menempel pada makanan. Kemudian ini menyebabkan kanker.

Fakta: Kandungan klorin pada air keran di Beijing sangatlah rendah dan tidak melebihi indeks yang direkomendasikan. Sebagai bahan kimia, klorin tidak bisa menyebabkan kanker tapi bisa memperparah kondisi pernafasan. Konsentrasi klorin yang tinggi juga dapat memicu banyak masalah kesehatan.

"Menambahkan klorin pada air keran merupakan cara paling sederhana dan efisien untuk membasmi kuman," ujar Liu Qingjun dari Beijing Academy of Science and Technology.

Ia menambahkan bahwa selama perebusan air, kandungan asam klorida jauh lebih kecil dari di perut manusia sehingga tidak perlu khawatir. Merebus air keran akan mematikan mikroorganisme seperti bakteri, virus, atau protozoa yang menyebabkan penyakit. Tapi perebusan air tidak menghilangkan logam atau kontaminasi lainnya yang ada di air akibat pipa tua atau kebocoran.

7. Telur dengan kulit lebih pucat punya kandungan nutrisi lebih banyak

Foto: iStock
Mitos: Cangkang telur yang lebih pucat menunjukkan telur punya kandungan nutrisi lebih tinggi.

Fakta: "Nutrisi sebuah telur berhubungan dengan bagaimana ayam petelur dibesarkan, dan telur sepenuhnya terbentuk sebelum ditetaskan. Faktanya, telur dengan kulit merah yang mengandung lebih banyak lemak dan kandungan kalori lebih tinggi dibanding yang lebih pucat," ujar Zhu Yi, deputi profesor dari College of Food Science di China Agricultural University.

8. Mie fensi dan rumput laut terbuat dari plastik

Foto: iStock
Mitos: Rumor ini muncul setelah seorang pria mengunggah video dirinya membakar mie beras dengan korek api. Ia mengklaim bahwa mie beras itu tidak dapat dimakan karena terbuat dari plastik. Ada video serupa melibatkan rumput laut, menyebut beberapa rumput laut berasal dari plastik hitam.

Fakta: The Beijing News menyatakan bahwa tidak ada rumput laut yang terbuat dari plastik di pasar China. Bahan utama fensi (bihun) adalah pati dan air. Pati merupakan karbohidrat yang mudah terbakar. Hanya karena sesuatu mudah terbakar bukan berarti ini tidak dapat dimakan atau palsu. Meski begitu, masih ada yang mengeluarkan laporan tentang beras palsu berbahan plastik dimana ada satu pengiriman yang dicurigai dari China ke Nigeria pad akhir tahun lalu.

9. Ekstrak enzim buah bisa membantu detoks

Foto: iStock
Mitos: Ekstrak enzim buah biasanya dijual dalam bentuk bubuk atau cair. Ini bisa memecah lemak dan membantu penurunan berat badan. Enzim tersebut juga dapat membantu memurnikan darah, memperbaiki kesehatan secara umum dan mencegah kerontokan rambut.

Fakta: Enzim merupakan sejenis protein yang jika dikonsumsi akan bersifat tidak aktif di perut dan tidak membantu penurunan berat badan. Meski begitu, jika enzim tersebut terkontaminasi jenis bakteri patogen tertentu maka bisa membuat pengguna sakit dan menyebabkan diare.

10. Jika kentang dipotong tidak berubah hitam maka merupakan kentang transgenosis

Foto: iStock
Mitos: Jika kentang dibelah dan warnanya tidak berubah hitam setelah beberapa saat melalui oksidasi, ini merupakan kentang hasil rekayasa genetik

Fakta: Tidak ada kentang hasil rekayasa genetik ditanam di China. Jika adapun, baik kentang berubah hitam atau tidak, tak terkait dengan perubahan genetik.

"Ketika sebuah kentang berubah hitam sebenarnya ini disebut browning (pencoklatan), karena polifenol (dalam kentang) teroksidasi," ujar Huang Dafang dari Chinese Academy of Agricultural Sciences.

Ia juga menyampaikan bahwa ragam kentang yang tidak mengalami perubahan kecoklatan dibudiyakan tahun 1995. Itu dimodifikasi tapi bukan bertujuan mencegah kecoklatan. Kentang inipun sudah tidak ada lagi sekarang. "Makanan yang dimodifikasi secara genetis tidak seseram rumor yang Anda percayai," tambah Huang.

Halaman 2 dari 6
(msa/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads