Sudah 8 Tahun Beri Roti Gratis untuk Warga, Pemilik Toko Ini Justru Dapat Hinaan

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Minggu, 26 Mar 2017 09:09 WIB
Foto: Oddity Central
Jakarta - Aksi dermawan tak selamanya ditanggapi positif. Pemilik toko kelontong ini justru dihina, bahkan dituduh mengambil jatah roti gratis dari pemerintah.

Selama 8 tahun terakhir, Mamoud Shavershyan memberi roti gratis untuk warga tak mampu di wilayah tempat tinggalnya, Strunino. Di kota kecil Rusia ini Mamoud menjalankan usaha toko kelontong. Tetapi bukan soal tokonya yang mendapat sorotan, aksi mulia Mamoud yang justru ramai diperbincangkan.

Setiap hari ia membagikan kupon yang bisa ditukarkan roti putih atau hitam gratis oleh warga yang membutuhkan. Selain warga miskin, mereka yang cacat dan keluarga besar berpenghasilan rendah juga dipersilakan mengambil roti ini. Tiap bulan sekitar 2000 papan roti putih dan 1000 papan roti hitam habis dibagikan.

Foto: Oddity Central

Mamoud juga rutin mendonasikan gingerbread ke TK di wilayahnya dan warga yang membawa kupon untuk mendapat roti. Tetapi alih-alih mendapat penghargaan atau ucapan terima kasih, Mamoud justru dihina dan dituduh pencuri oleh warga yang menerima bantuannya.

Dikabarkan Oddity Central (24/3), banyak orang berasumsi Mamoud hanya mendistribusikan jatah roti gratis dari pemerintah. Ia dikira menimbun roti tersebut untuk dirinya sendiri. "Siapa yang memberi kita roti gratis, Putin (presiden Rusia), siapa lagi!," ujar seorang warga yang membenci Mamoud.

Padahal semua biaya produksi roti berasal dari kantong pribadi Mamoud. Tanpa ada bantuan sedikitpun dari pemerintah setempat. Istri Mamoud, Rosa mengatakan hanya sekitar 10% penerima bantuan yang menunjukkan rasa terima kasih.

Saat ditanya seorang warga, "Mamoud, mengapa Anda menghabiskan uang dan tenaga untuk membantu orang, saat mereka yang dibantu hanya membalasnya dengan hal negatif?." Mamoud lalu mengatakan, "Hanya Tuhan yang bisa menghargai kebaikan, bukan orang."

Foto: Oddity Central

Mamoud juga sering berkata pada istri dan dua anak perempuannya, "Tidak ada yang pernah membantu orang-orang ini, jadi mereka tidak percaya pada kebaikan, mereka hanya marah."

Selain tak menerima bantuan dari pemerintah setempat, Mamoud mengaku pemerintah juga tidak mengakui usahanya. "Tetapi saya tidak melakukan ini untuk mendapat pengakuan pemerintah. Saya hanya ingin orang-orang di sekitar saya terbantu," pungkasnya. (adr/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com