Cynthia Delaney Suwito adalah remaja Indonesia yang baru saja menamatkan studi 'fine arts' di LASALLE College of the Arts, Singapura. Cynthia menarik perhatian berkat karya syal berbahan mie miliknya di pameran Untapped Discovery, Singapura pada Desember lalu.
Remaja 23 tahun ini menghabiskan 3-4 jam per hari untuk menghasilkan rajutan mie sepanjang 20-30 cm. "Saya sudah merajut mie instan sejak akhir tahun 2014," ujar Cynthia kepada Channel News Asia (11/1).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: sbs.com.au/channel news asia |
Sebelum bisa dirajut, mie instan perlu direbus dan didinginkan terlebih dahulu. Ia memilih menggunakan mie tebal yang mudah dirajut. Seperti merk Indomie dan Nongshim.
"Saya merajut mie karena ingin menunjukkan suatu perbedaan kontras. Saya melakukan sesuatu yang sangat lambat untuk sesuatu yang instan seperti mie instan. Menggunakan mie bahkan membuat proses merajut lebih lama dari yang seharusnya," ujar Cynthia.
Pada akhirnya karya seni ini bertujuan mengajak orang-orang lebih santai dan mengambil rehat sejenak dalam dunia yang serba instan ini.
Foto: sbs.com.au/channel news asia |
Dalam merajut, Cynthia menggunakan peralatan merajut standar. Termasuk jarum rajut, kotak kayu kecil berlubang, alat kecil seperti sisir, dan pengering rambut untuk mengeringkan mie.
Meski menggunakan mie sebagai karya seni yang membutuhkan kesabaran, Cynthia mengaku tetap mencinta mie. "Saya suka berbagai jenis mie! Saat ini favorit saya adalah mie jamur pedas merk Nongshim dari Korea," pungkasnya. (msa/odi)

Foto: sbs.com.au/channel news asia
Foto: sbs.com.au/channel news asia
KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN