Peneliti Temukan Cara Membuat Tomat Tak Cepat Busuk

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Jumat, 29 Jul 2016 12:30 WIB
Foto: iStock Foto: iStock
Jakarta - Kulit tomat cepat lembek sehingga cepat busuk. Namun dengan rekayasa genetika peneliti kini temukan cara mengatasinya.

Wall Street Journal (25/7) melaporkan peneliti di Universitas Nottingham, Inggris telah berhasil menyesuaikan gen yang bertanggung jawab memperlambat proses pematangan tomat. Dengan teknik ini, tomat tidak cepat lembek namun ukuran dan rasanya tetap sama.

Dalam jurnal Nature Biotechnology peneliti mengungkap tomat dengan rekayasa genetika memiliki kulit yang masih kencang meski sudah disimpan 14 hari. Dibanding tomat biasa yang kulitnya tampak keriput.

Peneliti menggunakan teknik pengubah DNA, termasuk CRISPR-Cas 9 yaitu alat penyunting yang memotong dan mengganti gen yang tidak diinginkan.


Jumlah tomat rekayasa genetika yang ditanam peneliti sama dengan tomat normal. Peneliti mengatakan tomat ini juga memiliki jumlah molekul yang sama dengan tomat normal dalam segi rasa, warna, dan aroma.

Meski begitu, rasa tomat hasil rekayasa genetika masih misteri karena penelitian ini berlangsung di Inggris. Negara ini melarang konsumsi makanan yang dimodifikasi secara genetis. "Kami tidak mengeluarkan sampel dari tomat rekayasa genetika ini," ujar Graham Seymour, bioteknolog pangan di Universitas Nottingham.

"Penelitian ini berpotensi penting karena hanya memperlambat salah satu aspek pematangan tomat. Hal ini sangat dibutuhkan dalam proses pengiriman dan penyimpanan tomat," ujar profesor ilmu hortikultura Universitas Florida, Harry Klee, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Seperti diketahui tomat lembek akan mudah hancur sehingga daya jualnya juga berkurang. Di Amerika Serikat, Departemen Pertanian mengungkap pasar untuk tomat segar dan olahan mencapai 2 miliar dolar.


Selama ini hasil tomat rekayasa genetika belum mencapai keseimbangan yang tepat. Kebanyakan mampu memperlambat proses pematangan tetapi kualitas rasa tomat menurun. Selama beberapa dekade, akademisi dan petani industri pun mencari gen yang bisa membuat tomat tetap segar tanpa mempengaruhi kualitas rasanya.

Salah satu pendekatan yang menjanjikan ialah pemanfaatan gen untuk pektat lyase, sebuah enzim yang 'mengunyah' dinding sel. Menurut Jose Mercado, bioteknolog di Universitas Malaga, Spanyol cara ini mampu meningkatkan kesegaran tomat tanpa mempengaruhi kualitasnya.

Namun produksi tomat rekayasa genetika dianggap tidak mungkin dilakukan dalam jumlah besar karena biaya yang amat besar. "Itulah mengapa GMO (organisme yang dimodifikasi secara genetik) di pasaran berupa tanaman pokok seperti jagung atau kedelai," ujar ahli biologi molekuler tanaman USDA, James Giovannoni.


Manfaat penelitian ini adalah memberi gambaran pencapaian untuk peternak gen. "Ini adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan secara empiris," ujar Dr Seymour. Ia menambahkan, pengujian tomat rekayasa genetika perlu dilakukan petani.

Sementara laboratorium miliknya terus bekerja meningkatkan kualitas tomat. Penelitian terbaru Seymour ini merupakan bagian dari kerja sama yang lebih besar dengan Syngenta untuk mengoptimalkan warna dan tekstur tomat.

(adr/odi)
Load Komentar ...