Meski Dibuat dari Tumbuhan, 'Impossible Burger' Rasanya Persis Daging Asli

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Rabu, 29 Jun 2016 06:50 WIB
Foto: Impossible Burger
Jakarta - Burger yang lebih sehat dan ramah lingkungan berhasil dibuat oleh. perusahaan startup di San Francisco. Meski dari tumbuhan rasanya persis daging asli.

Konsumsi daging merah di seluruh dunia masih tinggi. Karenanya produksi daging sapi terus meningkat dengan segala dampak buruk untuk lingkungan. Berusaha mengatasi hal ini, beberapa pihak mencari alternatif burger lebih baik seperti patty burger yang dikembangkan dari sel-sel daging sapi asli di laboratorium.

Kini Impossible Foods, perusahaan startup yang berbasis di San Francisco, menggabungkan berbagai jenis tumbuhan untuk meniru cita rasa daging sapi sungguhan. Mereka telah mengembangkan formula ini selama 5 tahun terakhir. Rasa, tekstur, dan tampilan burger kabarnya telah mendapat banyak pujian meski Impossible Foods belum resmi dipasarkan.



Dikutip dari Oddity Central (23/6), pendiri Impossible Foods yang juga mantan ahli biokima di Universitas Stanford, Patrick Brown mengatakan tujuan perusahaannya ialah menghasilkan produk yang akan mengubah dunia. Ia meyakini Impossible Burger mampu mewujudkannya.

Selama 5 tahun tersebut, Brown dan tim berusaha menganalisa molekul daging untuk mengetahui apa yang menciptakan rasa dan aroma daging (patty) burger. Mereka meyakini semua produk hewani bisa direplikasi dengan senyawa nabati berbahan tumbuhan.

"Sejak awal dugaan saya sudah kuat mengenai bahan bernama heme yang menciptakan rasa unik pada daging," ujar Brown. Molekul berbahan zat besi ini menciptakan warna merah pada darah manusia, memberi semburat pink pada daging, dan rasanya yang sedikit seperti logam.

Konsentrasi heme pada daging merah terbilang tinggi, namun sebenarnya heme juga terdapat pada tumbuhan. "Hal inilah yang memberi harapan tampilan dan rasa burger nabati bisa mirip daging sapi asli. Ini bukanlah ide yang sangat gila," tutur Brown.

Namun ada kendala mengekstraksi heme dari kacang-kacangan seperti kedelai. Brown menjelaskan, "Kedelai mengandung leghemoglobin pada akar tetapi mengekstraksinya menjadi heme sangatlah mahal dan menguras waktu."

Brown dan tim memilih cara mentransfer gen kedelai yang mengkode protein heme menjadi ragi. Cara ini memungkinkan Impossible Foods memproduksi senyawa mirip darah dalam jumlah besar.

Persoalan tidak berhenti pada penciptaan rasa daging. Impossible Foods harus menjamin kesuksesan produk inovatif mereka dengan mereplikasi lemak hewan. Mereka menggunakan minyak kelapa untuk dicampurkan pada gabungan protein gandum dan kentang yang membentuk "daging tumbuhan" pada burger.

Minyak tersebut nantinya tetap solid hingga patty burger ditempatkan dalam wajan panas. Di titik ini patty akan mulai mengeluarkan cairan dan mendesis layaknya lemak hewan ketika dimasak.

Bau patty Impossible Burger juga direkayasa oleh tim peneliti. Mereka menaruh daging yang sudah dimasak di mesin spektrometri masaa kromatografi gas untuk memisahkan ribuan senyawa dan bau melalui tabung.

Lewat cara ini peneliti bisa mengidentifikasi tiap komponen tertentu dari bau atau aroma."Bau daging adalah paparan simultan untuk ratusan bau berbeda. Dan bau daging terjadi di sini," ujar salah seorang peneliti sambil menunjuk ke kepalanya.



Lindsay Hoshaw,
salah seorang yang berkesempatan mencoba Impossible Burger menceritakan rasanya. "Rasanya sedikit kurang kuat dari daging, tetapi jika saya tidak tahu burger ini dibuat dari tumbuhan, saya tidak akan menyadarinya. Teksturnya mirip daging sapi giling," jelasnya.

Kelebihan lain Impossible Burger adalah kandungan proteinnya lebih tinggi, lemaknya lebih sedikit, dan kalorinya juga lebih rendah dibanding burger daging sapi biasa. Ini karena tidak adanya kandungan daging sungguhan di dalma burger.



Saat ini Impossible Burger dijual lebih mahal dari burger daging sungguhan. Tetapi Patrick Brown mengatakan hal ini bisa berubah seiring kenaikan jumlah produksi. Pihaknya telah menyewa fasilitas pabrik seluas lebih dari 6000 meter persegi untuk memproduksi Impossible Buger.

Dibutuhkan tahunan agar Impossible Foods bisa memasarkan burger ini ke swalayan-swalayan. Tetapi kini perusahaan fokus memilih restoran, berharap para chef berbakat bisa mengolah patty burger vegetarian ini menjadi menu menarik dan mungkin rasanya lebih enak.

Di sisi lain, para pakar industri makanan skeptis kemunculan Impossible Burger mampu menggantikan daging sapi biasa. Mereka mengatakan sulit menggantikan daging sapi sepenuhnya dengan daging berbasis tumbuhan selama daging sungguhan tersedia di pasaran dengan harga terjangkau.

Tetapi Brown meyakini hal ini. "Jika orang-orang akan makan burger selama 50 tahun, mereka tidak akan memakannya dari sapi. Kami menyelamatkan burger," pungkasnya. (odi/odi)