Malaysia Buang 9.000 Ton Makanan Tiap Hari Selama Ramadan

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Senin, 06 Jun 2016 12:50 WIB
Foto: iStock
Jakarta - Saat Ramadan, permasalahan limbah makanan di Malaysia tetap terjadi. Sebanyak 9.000 ton makanan layak konsumsi terbuang sia-sia setiap hari.

Malaysian Digest (6/9) mengabarkan penelitian Solid Waste and Public Cleansing Corporation (SWCorp) tahun lalu mengungkap warga Malaysia membuang 15.000 ton makanan per hari dengan 3.000 ton diantaranya masih layak konsumsi. Bila ditotal, jumlah ini mampu mencukupi kebutuhan makan 2 juta orang.

Mengejutkannya lagi, permasalahan limbah makanan juga terjadi saat ramadan. SWCorp menyebut rata-rata 9.000 ton makanan dibuang tiap hari di Malaysia atau sebanyak 270.000 ton makanan selama sebulan.

Pejabat Eksekutif Datuk Abdul Rahim Md Noor mengatakan, "Jumlah (limbah makanan) tersebut bisa memberi makan lebih dari 180 juta orang. Enam kali lebih banyak dari populasi kita saat ini yang hampir 30 juta orang."


Ia menambahkan, SWCorp telah memprakarsai Mindset Transformation Programme dengan sejumlah hotel dan restoran untuk menyumbangkan sisa makanan ke lembaga-lembaga kesejahteraan atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berfokus pada limbah makanan. Cara ini diharapkan bisa jadi solusi atasi terbuangnya makanan sia-sia.

Salah satu LSM, Food Aid Foundation, memiliki sistem bank makanan. Di sini para produsen makanan, distributor, penjual, pengecer, perusahaan, atau individu bisa menyumbangkan makanan layak konsumsi. Nantinya lembaga akan menyalurkannya pada orang yang membutuhkan seperti pengungsi, keluarga miskin, dan dapur umum.

Hayati Ismail selaku Project Manager Food Aid Foundation mengatakan jumlah pemborosan makanan selama Ramadan pasti meningkat. "Hal ini terjadi bukan karena orang makan lebih banyak, tetapi karena mereka dimanjakan dengan ragam makanan di prasmanan," tutur wanita berkerudung ini.

"Akhirnya orang-orang cenderung mengambil banyak makanan, namun tidak mampu menghabiskannya. Ditambah lagi, selama ini tempat berbuka puasa dengan suguhan menu prasmanan selalu diburu banyak orang," ujar Hayati.


Saat ditanya, langkah tepat untuk menghindari pemborosan makanan selama Ramadan, Hayati berpendapat selama permintaan buka puasa dengan menu prasmanan masih tinggi, maka tidak ada yang bisa dilakukan.

Namun demikian, sebagai bagian dari inisiatif mengurangi pemborosan makanan, selama 3 tahun terakhir Food Aid Foundation telah menyelamatkan makanan surplus. Sampai saat ini mereka telah berhasil mendistribusikan makanan ke lebih dari 100 lembaga kesejahteraan sekitar Lembah Klang setiap bulannya.

Selain itu, untuk memberi makan orang miskin selama bulan Ramadan, Food Aid Foundation telah menargetkan pengumpulan dana pendistribusian ribuan kotak makan senilai 150 RM atau sekitar Rp 491.000.

"Kita diberkati banyak makanan di Malaysia. Saya pikir seharusnya tidak ada yang kelaparan di sini. Sayangnya, hal itu adalah kenyataan hari ini. Kita harus ingat untuk hanya mengambil makanan secukupnya. Saya berharap makanan layak konsumsi yang tidak disajikan atau dibuang sia-sia bisa tersalurkan untuk orang yang membutuhkan," pungkas Hayati.

(adr/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com