Masyarakat China Kuno Sudah Minum Bir Sejak 5000 Tahun Lalu

Masyarakat China Kuno Sudah Minum Bir Sejak 5000 Tahun Lalu

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood
Rabu, 25 Mei 2016 13:04 WIB
Foto: iStock/China Daily
Jakarta - Kebiasaan minum bir masyarakat China sudah dimulai ribuan tahun lalu. Terbukti dari temuan arkeologis berupa corong untuk membuat bir di dekat anak sungai Wei, China Utara.

Sejauh ini, catatan tertulis paling awal mengenai bir di China terlihat dari prasasti tulang oracle Dinasti Shang pada 3000 tahun lalu. Prasasti itu menunjukkan bekas butiran malt China kuno seperti millets, barley, dan gandum yang menjadi bahan utama pembuatan bir.

Dikutip dari China Daily (24/05), Senin lalu para peneliti China dan Amerika Serikat merilis temuan arkeologis terbaru. Temuan ini menunjukkan bir ternyata sudah dinikmati masyarakat China sejak 5000 tahun lalu. 2000 tahun lebih awal dari temuan sebelumnya.
Dugaan sementara tradisi pembuatan bir Shang berawal pada periode Neolitik Yangshao, tepatnya ketika desa-desa pertanian berskala besar didirikan di lembah Sungai Kuning.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk studi terbaru, para peneliti menggali dua lubang bawah tanah berumur 2900-3400 SM di Mijiaya. Tempat ini merupakan situs arkeologi dekat anak sungai Wei di China Utara.

Ada 3 jenis bejana yang ditemukan di kedua lubang berupa wadah dengan permukaan lebar, corong, dan jiandiping amphorae. Ketiganya meninggalkan residu kekuningan di permukaan interiornya.

"Bentuk dan jenis bejana tersebut diduga digunakan dalam proses pembuatan bir yang terdiri dari 3 tahap berbeda yaitu brewing, filtrasi, dan penyimpanan," sebut para peneliti di US Journal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Menariknya, dalam tiap lubang yang digali juga ditemukan kompor tembikar. Kompor ini bisa difungsikan sebagai penghasil panas yang diperlukan dalam proses penumbukan biji-bijian dalam pembuatan bir.

Jiajing Wang dari Universitas Stanford yang memimpin penelitian mengatakan analisis morfologi menemukan adanya butir pati dan phytoliths dalam artefak. Berupa millets broomcorn, barley, Coix lacryma-jobi, dan umbi-umbian.

"Beberapa butir pati terlihat memiliki pola kerusakan yang sesuai dengan perubahan morfologi selama proses malting dan menumbuk dalam pembuatan bir," tambah Wang. Peneliti juga menemukan oksalat, produk sampingan dari pembuatan bir, di beberapa artefak. Temuan ini semakin menguatkan adanya pembuatan bir di masa tersebut.

Wang dan rekan menulis, "Untuk pengetahuan kita, data kami memberikan bukti langsung awal pembuatan bir di China. Teknik beer brewing ternyata sudah ada sejak 5000 tahun lalu."

Studi ini sekaligus menunjukkan beberapa tanaman lebih dulu digunakan sebagai bahan pembuatan bir. Baru kemudian menjadi komoditas pokok pertanian.

"Produksi dan konsumsi bir pada periode Yangshao telah berkontribusi memunculkan masyarakat hierarkis dalam Central Plain yaitu sebuah wilayah yang dikenal sebagai tempat lahirnya peradaban China," ujar para peneliti dalam laporannya.

Untuk studi ini, Wang dibantu Li Liu dari Universitas Stanford, Terry Ball dari Brigham Young University, dan Fulai Xing dari Shaanxi Provincial Institute of Archaeology.

Selain soal pembuatan bir, para peneliti juga mengidentifikasi residu barley di artefak Mijiaya yang merupakan awal dikenalnya barley di China. Hal ini sekaligus mendorong kembali penanaman barley sekitar 1000 tahun lalu.

Barley pertama kali didomestikasi di Barat Eurasia, kemudian diperkenalkan ke China melalui padang rumput di Asia Tengah. Tetapi saat itu waktu dan kondisi tanah untuk menanam barley belum dipahami dengan baik di China. (lus/odi)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads