Studi: Gaya Hidup Vegan Bisa Perpanjang Usia

Studi: Gaya Hidup Vegan Bisa Perpanjang Usia

Andi Annisa Dwi R - detikFood
Senin, 28 Mar 2016 18:33 WIB
Foto: iStock
Jakarta - Para peneliti di Universitas Oxford, Inggris mengungkap manfaat gaya hidup vegan. Dengan tidak mengonsumsi produk hewani, jutaan kematian per tahun bisa dicegah hingga tahun 2050. Begitu juga dengan emisi penyebab pemanasan global.

NBC News (22/03) melaporkan penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences mencari tahu dampak gaya hidup vegan terhadap kesehatan dan lingkungan.

"Kami tidak mengharapkan tiap orang menjadi vegan. Namun bila menjalaninya, umur mereka makin panjang dan bantu kurangi perubahan lingkungan akibat iklim yang memburuk," ujar pemimpin penelitian, Marco Springmann dari Oxford Martin Program on the Future of Food.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi Springmann, "Apa yang kita konsumsi sangat mempengaruhi kesehatan kita sendiri dan lingkungan secara global."



Para peneliti di Universitas Oxford mengamati 4 jenis diet yaitu pola makan biasa, pola makan dengan mengikuti pedoman global seperti jumlah asupan minimum bahan makanan, gaya hidup vegetarian, dan gaya hidup vegan.

Hasil penelitian menunjukkan dengan menjalani diet sesuai pedoman global bisa cegah 5,1 juta kematian per tahun pada tahun 2050. Namun bila menjalani gaya hidup vegan yang tidak mengonsumsi produk hewani termasuk turunannya seperti telur dan susu, angka kematian yang dicegah bisa mencapai 8,1 juta.

Soal perubahan iklim, pola makan dengan mengikuti pedoman global bisa kurangi emisi sehubungan makanan sebesar 29%, gaya hidup vegetarian sebesar 63%, dan gaya hidup vegan hingga 70%.

Pergeseran pola makan ini juga menghemat 700 miliar hingga 1 triliun USD per tahun yang dihabiskan untuk perawatan kesehatan atau kerugian akibat bolos kerja. Sementara itu, keuntungan ekonomi akibat pengurangan emisi gas rumah kaca bisa mencapai 570 miliar USD.

Peneliti menemukan 75% keuntungan ini akan terjadi di negara berkembang, meskipun dampak perubahan per kapita terbesar akan dialami negara maju sehubungan angka konsumsi daging dan obesitas yang lebih tinggi.

Mereka menambahkan nilai ekonomi dari perbaikan kesehatan bisa sebanding atau bahkan lebih besar dari nilai kerusakan yang bisa dicegah akibat perubahan iklim. "Ini bisa jadi alasan kuat untuk meningkatkan anggaran publik maupun swasta bagi program-program yang bertujuan mempromosikan diet lebih sehat dan ramah lingkungan," tutur Springmann.



Penelitian ini turut mengamati perbedaan regional guna mengidentifikasi intervensi paling cocok bagi produksi pangan dan konsumsi. Misalnya, upaya mengurangi konsumsi daging merah akan berefek besar di Asia Timur, Amerika Barat, dan Amerika Latin.

Sedangkan upaya meningkatkan asupan buah dan sayur merupakan faktor terbesar pengurang angka kematian di Asia Selatan dan sub-Sahara Afrika.

Sementara itu, negara di Timur Mediterania, Amerika Latin, dan negara Barat lainnya perlu mengurangi asupan kalori agar jumlah masyarakat yang kelebihan berat badan bisa berkurang.

Serangkaian upaya tersebut tidaklah mudah. Masyarakat dunia perlu mengonsumsi 25% lebih banyak buah dan sayur untuk mendapat manfaat dari menjalani pola makan dengan mengikuti pedoman global.

Secara keseluruhan, manusia perlu mengonsumsi 15% lebih sedikit kalori untuk mencapai kondisi sehat.

"Kami tidak berharap semua orang menjadi vegan. Tapi perubahan iklim akibat sistem pangan kita sekarang akan sulit diatasi. Mungkin perlu lebih dari sekadar perubahan teknologi. Mengadopsi diet lebih sehat dan ramah lingkungan akan menjadi langkah besar dalam keputusan yang tepat," pungkas Springmann.

(adr/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads