Meskipun Dicuci Bersih Sayuran Bisa Jadi Pemicu Keracunan Makanan

Meskipun Dicuci Bersih Sayuran Bisa Jadi Pemicu Keracunan Makanan

Ellia Avrizella Quenda - detikFood
Sabtu, 26 Mar 2016 11:18 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Meskipun dibungkus dan segar, bukan berarti makanan aman dimakan. Keracunan makanan yang sebabkan sakit perut dan diare sangat sering terjadi. Juga bisa dipicu oleh konsumsi sayuran segar.

Munculnya wabah penyakit yang berasal dari makanan bisa disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi. Bukan saja terdapat pada makanan, melainkan juga minuman.

Makanan atau minuman yang terkontaminasi ini bisa disebabkan oleh virus, bakteri, parasit atau bahkan inoksikasi bahan kimia beracun yang secara sengaja atau tidak terkandung dalam makanan.



Menurut Sciencedaily (22/03), fenomena ini tidak hanya mengakibatkan bisa membuat produktivitas pekerja menurun. Juga pendapatan sektor industri ikut menyusut.

Untuk pencegahan peneliti dari University of Illinois berupaya untuk mempelajari adanya kemampuan virus patogen yang melekat pada permukaan produk makanan segar. 

"Kami telah memilih 24 salad sayuran yang paling umum di Amerika Serikat dan untuk diuji apakah ada hubungan antara morfologi dan kimia di daun atau permukaan buah serta melekatnya partikel virus, sebelum dan setelah proses pencucian,” kata Jack Juvik, U of I geneticst.



Para peneliti melakukan inokulasi terhadap daun salad hijau dan tomat yang diberikan virus babi yang meniru rotavirus manusia, suatu patogen yang menyebabkan diare, muntah, demam, dan sakit perut.

Setelah mengekspos permukaan sayur yang terkena virus, para peneliti membilas sayuran sebanyak dua kali dengan menggunakan larutan garam.



"Kami melakukan korelasi lekatan virus terhadap kekasaran permukaan dalam skala berbeda. Kami juga melihat kimia dari protein dan lilin yang berada di kutikula daun. Lapisan lilin berfungsi melindungi tanaman terhadap penyakit dan mengurangi kehilangan air," kata Juvik.



Sebelum ini, tidak ada yang menguji hubungan antara kimia dan tekstur permukaan pada tingkat melekatnya partikel virus. 

Para peneliti menemukan seribu kali lipat perbedaan dalam jumlah partikel virus yang terkandung di berbagai jenis sayuran hijau dan tomat.

Sayuran dengan struktur lilin kristal tiga dimensi pada kutikula daun dapat memendam partikel virus lebih sedikit setelah pembilasan. Ini berlawanan dengan intuisi, seperti yang diharapkan bahwa partikel virus kecil bisa "bersembunyi" dalam struktur kasar kutikula daun.



"Saya juga terkejut. Tapi biasanya, virus melekat pada kelompok oksigen, seperti OH, yang berhubungan dengan protein dan karbohidrat di permukaan. Ketika lilin benar-benar melapisi permukaan, menjadi sangat hidrofobik,” jelasnya.

Ini yang membuat seluruh permukaan daun sulit untuk mengikat virus. Selanjutnya, membilas daun dengan air berguna memberikan kelompok virus OH yang mereka cari, sehingga mereka lebih mudah untuk dibersihkan.

Proses produksi bisa terjangkit oleh virus dan patogen lain dalam berbagai cara, termasuk irigasi air yang terkontaminasi, limbah hewan, dan penanganan oleh pekerja yang sakit.



Tetapi, karena salad sayuran yang dikonsumsi segar, maka patogen tidak dapat dimatikan ketika dimasak atau dengan menggunakan metode sterilisasi lainnya.



"Virus secara harfiah berada di mana-mana, sehingga menyebabkan semakin banyaknya makanan terinfeksi. Tapi penelitian ini dapat digunakan untuk memilih atau mengembangbiakkan varietas yang memiliki kapasitas untuk mengurangi pelekatan partikel-partikel ini," ungkap Juvik.



Para peneliti telah mengulangi penelitian menggunakan bakteri E. coli, tetapi mereka berencana untuk melihat lebih banyak varietas sayuran dan patogen dalam studi di masa depan.



(lus/odi)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads