Sajian Spesial Valentine

Mengapa Cokelat Dipilih untuk Nyatakan Cinta?

Lusiana Mustinda - detikFood Selasa, 09 Feb 2016 15:51 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta -

Selain rasanya yang enak dan manis, cokelat juga bisa jadi lambang cinta. Sejak dulu cokelat selalu jadi alat untuk ekspresikan cinta pada pasangan.

Cokelat telah dianggap sebagai makanan afrodisiak sejak zaman suku Aztec serta Maya. Dulunya hanya bisa dikonsumsi oleh orang kaya. Kedua suku dari kalangan elit ini menikmati minuman yang dikombinasikan dengan biji kakao panggang dengan tepung maizena, vanili, madu dan sedikit cabai.

Biji kakao menjadi salah satu komoditas yang sama berharganya dengan emas dan digunakan untuk membayar pajak yang dipungut oleh penguasa suku Aztec.

Dari awal tahun 1600-an, cokelat sudah populer di seluruh Eropa. Di London, rumah cokelat mulai menyaingi rumah kopi sebagai tempat arisan.

Foto: Thinkstock

Di Prancis, Madame de Sevigne menulis tentang besarnya konsumsi cokelat di seluruh pengadilan di Versailles pada tahun 1671. Louis IV meminumnya setiap hari dan Madame du Barry dikatakan menggunakan cokelat yang dicampur dengan amber untuk dinikmati bersama kekasih.

Ketika Marie Antoinette menikah dengan Louis XVI pada tahun 1770, dia membawa pembuat cokelat pribadinya ke Versailles. Cokelat untuk ratu dibuat dengan mencampurkan kuncup anggrek untuk kekuatan, cokelat dengan bunga jeruk untuk menangkan saraf atau cokelat dengan susu almond untuk membantu pencernaan.

Dalam abad-abad berikutnya Richard Cadbury bersama keluarganya di British memproduksi cokelat. Kemudian mereka mencari cara untuk menggunakan cocoa butter murni yang diekstraksi agar lebih menarik dibandingkan dengan minum cokelat hangat.

Solusi yang didapatkan adalah cokelat dikemas dalam kotak yang indah dan dirancang sendiri. Untuk mendukung pemasarannya, Cadbury mulai menempatkan dewa asmara dan kuntum bunga mawar di kotak berbentuk hati pada tahun 1861. Bahkan ketika cokelat telah dimakan, orang bisa menggunakan kotak yang indah untuk menyimpan kenang-kenangan seperti surat cinta.

Foto: Thinkstock

Komersialisasi hari valentine kemudian berkembang pesat di Amerika. Mulai dari Milton Hersey yang membuat karamel berlapis cokelat hingga Jean Harlow yang menghias cokelat dengan satin dan juga renda berbentuk cokelat.

Tak hanya di Eropa, Asia juga punya ritual tersendiri saat valentine. Di Korea, jika para pasangan saling memberikan cokelat, para jomblo di Korea justru akan pergi makan mie hitam di beberapa restoran. Sedangkan di Jepang, tanggal 14 Februari (Valentine Day) dan 14 Maret (White Day) dan dijadikan ajang untuk menyatakan cinta.

Berkat kepopuleran cokelat, hingga kini perayaan valentine identik dengan memberikan cokelat berbentuk hati kepada pasangan dan sesorang yang dicinta.

(lus/odi)