6 Bulan Makan dari Limbah Makanan Pria Ini Berat Badannya Naik 5 Kg

6 Bulan Makan dari Limbah Makanan Pria Ini Berat Badannya Naik 5 Kg

Christina Ambarrita - detikFood
Sabtu, 30 Jan 2016 09:42 WIB
Foto:Business Insider
Jakarta - ​Limbah makanan jadi masalah serius di Eropa, Amerika hingga Arab Saudi. Pria ini justru menantang diri makan dari limbah makanan dan ternyata berat badannya justru naik.​

​Tercatat d​i Amerika Serikat dan Kanada, setidaknya jumlah nominal yang terbuang akibat pembuangan makanan mencapai $6000 atau sekitar Rp 82.800.000​ per detik. Karenanya masalah limbah ini makin serius. Mengingat banyak orang tak bsa makan layak di dunia.​

Dilansir Business Insider (29/1), untuk membuktikan seberapa banyak makanan yang terbuang, filmmaker asal Kanada Grant Baldwin dan Jen Rustemeyer mencoba membuat eksperimen yang menantang.



​Mereka berkomitmen untuk mengonsumsi sisa makanan atau bahan makanan yang terbuang yang masih layak makan. Kendati eksperimennya relatif mudah bahkan mampu menghemat pengeluaran, keduanya harus menjalani kehidupan seperti biasa selama enam bulan​. ​

​Mereka ​hanya mengonsumsi makanan yang ditemukannya di dumpster alias tempat sampah. Kemudian di akhir masa enam bulan, ternyata melalui eksperimen ini mereka mampu menyelamatkan makanan yang hampir terbuang sia-sia​.

N​ilainya mencapai lebih dari $20.000 atau sekitar 276 juta rupiah. Hal ini membuat keduanya mampu menghemat b​elanja​ dapur dan hanya menghabiskan $200 bahan makanan atau sekitar $ 30 per sekitar Rp 414.000​ per bulan.

Akibat tantangan ini, pada bulan keempat berat badan Baldwin bahkan naik hingga 10 pon atau sekitar 5 kilogram. “Saya yakin banyak orang mengira kami ini mengonsumsi makanan sisa yang benar-benar tersisa di atas piring. Saat saya menceritakan proyek ini ke​pada​ beberapa orang, banyak yang meresponnya dengan tatapan aneh. Namun apabila mereka paham mengenai kualitas makanan yang kita peroleh, mereka akan tahu jika kami tetap mengonsumsi makanan yang layak santap​,​” ​tutur ​Rustemeyer.


Baldwin menganggap jika kenaikan berat badannya ini dipicu karena ia selalu melahap habis makanan yang tersedia di depannya. Baginya, ​yang ter​penting dari proyek ini bukanlah perihal menemukan makanan yang layak. Namun tentang bagaimana usahanya agar tidak membuang makanan lagi. Hal yang paling mencengangkan dari proyek ini adalah ketika mereka menemukan beragam jenis makanan di tempat sampah.

“Tidak mungkin kami melacak kembali apa saja yang kami temukan. Sesekali kami mengamati setumpukan sampah dan hanya mengambil makanan yang ada di permukaan tempat sampah itu. Padahal kedalaman sampahnya mencapai delapan kaki, sehingga kami tak tahu apalagi yang ada di dalam sana.”



Mereka pernah membawa pulang cokelat organik senilai $13.000 atau sekitar Rp 179.400.000. Di lain hari, mereka juga pernah menemukan sebuah tempat sampah berukuran besar—hampir seukuran setengah kolam renang, yang berisi ratusan hummus kemasan. Padahal tanggal kadaluarsa yang tertera masih sekitar tiga minggu lagi. Mereka pun mengambil sekitar empat buah saja untuk disantap.

Menjelang akhir masa eksperimennya, rak-rak makan mereka terisi penuh oleh banyak makanan. Sehingga dirasa perlu mengundang teman-teman mereka untuk sekadar menghabiskan makanan tersebut agar mereka tidak kembali membuang makanan yang masih ​​layak makan​.

(lus/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads