Arkeolog Temukan Teh Tertua di Dunia yang Dikubur bersama Kaisar China

Arkeolog Temukan Teh Tertua di Dunia yang Dikubur bersama Kaisar China

Andi Annisa Dwi R - detikFood
Senin, 11 Jan 2016 14:02 WIB
Foto: Thinkstock/The Independent
Jakarta - Kaisar China dikabarkan telah minum teh sejak ribuan tahun lalu. Bukti ini diperkuat dengan temuan dauh teh yang dikubur bersama jenazah kaisar China berusia 2150 tahun.

Meski terdapat teks China kuno yang menyebut China mengekspor daun teh ke Tibet ratusan tahun lalu, belum pernah ditemukan bukti fisik dari teh kuno tersebut. Namun arkeolog asal Chinese Academy of Sciences baru-baru ini menemukannya.

Seperti diberitakan Independent (10/01), arkeolog memeriksa kristal kecil yang terjebak pada rambut di atas permukaan daun dengan menggunakan spektrometri massa. Hasil pemeriksaan menunjukkan daun tersebut sebenarnya adalah teh atau camelia sinensis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Analisis ilmiah terkait makanan dan persembahan lain juga menemukan adanya millet, beras, dan chenopod dalam makam kaisar China. Diperkirakan semua makanan tersebut dikubur pada tahun 141 SM, saat Kaisar Jing dari Dinasti Han dikuburkan.



Teh dikubur dalam kotak kayu bersama barang-barang lain berukuran besar. Seperti senjata, patung-patung tembikar, keramik bentuk binatang, dan beberapa kereta ukuran nyata lengkap dengan kudanya.

Makam ini terletak dekat ibukota Kaisar Jing Di, yaitu Chang'an. Wilayah tersebut kini dikenal sebagai modern Xian dan dapat didatangi pengunjung umum.

Pada masa pemerintahannya, Kaisar Jing dikenal sebagai penguasa yang memberi standar hidup rakyat lebih baik. Ia juga mengurangi beban pajak rakyat secara besar-besaran. Berkat jasanya, ia dianggap sebagai tokoh penting dalam sejarah China awal.



"Penemuan ini menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan modern dapat mengungkap rincian budaya China kuno yang sebelumnya tidak pernah diketahui. Seperti tradisi minum teh sejak ribuan tahun lalu," ujar Profesor Dorian Fuller, Direktur Pusat untuk International Centre for Chinese Heritage and Archaeology.

Penelitian yang dipublikasikan di Nature's Online ini juga mengungkap teh yang ditemukan adalah teh berkualitas unggul karena berupa tunas, bukan daun teh biasa.

(adr/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads