Tingginya Ekspor Makanan Inggris Sebabkan Kerusakan Lingkungan

Tingginya Ekspor Makanan Inggris Sebabkan Kerusakan Lingkungan

Andi Annisa Dwi R - detikFood
Sabtu, 09 Jan 2016 10:42 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Globalisasi mudahkan ekspor dan impor makanan antar negara. Sayangnya, tingkat ekspor makanan Inggris yang tinggi berdampak buruk bagi lingkungan.

Meski makanan Inggris bukanlah makanan paling disukai di dunia, negara dengan ikon Big Ben ini mengekspor banyak bahan makanan. Seperti teh ke China, keju ke Prancis, dan cokelat ke Switzerland.

Seperti diberitakan Munchies (08/01), Inggris mengekspor makanan dengan total nilai lebih dari 29 miliar dollar ke 150 negara pada tahun 2014.



Namun untuk keperluan ekspor besar ini, lebih dari setengah pasokan makanan Inggris ternyata didatangkan dari luar perbatasan. Kondisi ini memicu kerusakan lingkungan.

Studi terbaru yang diterbitkan Royal Society Interface menunjukkan ketergantungan Inggris pada pakan ternak eksternal dan makanan membuatnya menyumbang 64-70 persen efek gas rumah kaca dan polusi terkait lahan pertanian. Juga berimbas pada wilayah di sekitarnya.

Penelitian berjudul "Global cropland and greenhouse gas impacts of UK food supply are increasingly located overseas" ini menyoroti bahaya memasok makanan dari negara-negara miskin dengan kedok menyelamatkan lingkungan.

"Memproduksi cukup makanan dan makanan sehat untuk populasi dunia yang berkembang di tengah perubahan iklim merupakan tantangan utama pada abad 21," tutur para penulis studi. Menurut mereka, perdagangan pertanian berdampak pada ketahanan pangan nasional dan berpotensi 'memindahkan' dampak lingkungan dari negara maju ke negara berkembang.

Dengan kata lain, Inggris tak hanya mengekspor produk melainkan mengekspor jejak karbon untuk negara-negara miskin.



Peneliti mengatakan tidak sepatutnya menyalahkan penuh negara-negara miskin yang memasok makanan untuk Inggris. Konsumen dan pemerintah Inggris turut andil dalam permasalahan ini.

"Dampak lingkungan didorong oleh pola konsumsi. Pemerintah terfokus pada usaha menghasilkan produk dengan harga murah per unitnya, namun kurang mempertimbangkan pola dan volume konsumsi," tutur para peneliti.

Menurut mereka Inggris sebenarnya bisa melakukan swasembada pangan utuh. Namun hal ini akan menyebabkan pergeseran drastis dalam pola konsumsi. "Akan banyak jenis buah dan sayuran yang tidak layak atau tidak diterima," pungkas peneliti mengenai salah satu dampak yang mungkin terjadi.




(tan/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads