Seperti dikabarkan Fox News (21/12), tim peneliti di Universitas Carnegie Mellon mengatakan produksi buah, sayur, olahan susu, dan seafood menghabiskan lebih banyak sumber daya serta menghasilkan emisi gas rumah kaca (GHG) per kalori lebih banyak.
Dengan kata lain, penelitian ini menyoroti praktek pola hidup vegetarian yang dikaitkan dengan dampak perubahan iklim lebih besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan banyak jenis sayuran menghabiskan lebih banyak sumber daya per kalori dalam proses produksinya. βTerong, seledri, dan mentimun terlihat sangat buruk ketika dibandingkan dengan daging babi atau ayam.β
Tim peneliti melihat rantai pasokan secara menyeluruh, mulai dari proses penanaman, pengemasan, pengiriman, penjualan, penyimpanan, dan penggunaan bahan makanan di rumah tangga. Mereka menilai dampak yang muncul, seperti penggunaan energi, air, dan emisi gas rumah kaca.
Mengonsumsi makanan sehat yang dianjurkan seperti buah, sayur, olahan susu, dan seafood meningkatkan dampak buruk bagi lingkungan dalam 3 kategori. Penggunaan energi meningkat 38%, penggunaan air meningkat 10%, dan peningkatan emisi gas rumah kaca meningkat 6%.
Meski begitu Fishbeck mengatakan, βKami tidak berusaha mengubah preferensi orang mengenai makanan, kami hanya melihat panduan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang menyarankan konsumsi makanan yang dianggap sehat tadi. Banyak orang akan mengacu pada panduan tersebut dan makan lebih banyak makanan yang disukai.β
Menanggapi selada yang dianggap berdampak lebih buruk bagi lingkungan, Fishbeck mengatakan banyak makanan vegan yang tinggi protein dan kalori, namun berdampak lebih kecil bagi lingkungan dibanding bacon. βAda kacang-kacangan dan biji-bijian yang lebih baik,β tutur Fishbeck.
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menyoroti pola makan sehat sebaiknya menghasilkan berat badan yang lebih baik dan dampak lingkungan yang lebih positif.
(adr/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN