Kue Tradisional Indonesia Juga Bisa Dikembangkan dan Jadi Tren

​Tren Makanan dan Minuman 2016

Kue Tradisional Indonesia Juga Bisa Dikembangkan dan Jadi Tren

Maya Safira - detikFood
Selasa, 15 Des 2015 18:33 WIB
Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Tren kue tidak melulu harus dari barat​ berupa cake dan pastry​. Menurut salah seorang pakar di bidang baking, kue tradisional juga bisa menjadi tren.

Berbicara mengenai tren tahun depan, tidak melulu harus berhubungan dengan kue asal luar negeri. Meski memang fenomena Cronut, Rainbow Cake atau Red Velvet Cake sempat menghampiri Indonesia beberapa tahun belakangan.

Chef Haryanto Makmoer, konsultan bakery, menyebut masyarakat Indonesia juga bisa membuat tren produk dalam negeri.



"Kalau kita mau mengetrenkan produk Indonesia sebetulnya bisa. Dan perkembangan kue tradisional di Indonesia itu sebenarnya bisa diangkat jadi​ lebih tinggi," ucapnya saat ditemui Detikfood beberapa waktu lalu.

Ia mencontohkan kepopuleran kue cubit yang sempat terjadi. "Kita terus bicara tentang kue cubit, akhirnya jadi tren dimana-mana. Padahal dari dulu kan sudah ada kue cubit," tambah pria kelahiran Surabaya ini.

Begitu juga dengan martabak yang muncul dengan aneka rasa. Menurutnya, produsen tinggal mencari kreasi atau modifikasi untuk menarik minat masyarakat.



Terkait rasa, kue tradisional populer sempat mengalami metamorfosis dengan paduan produk luar negeri yang lebih modern. Chef Haryanto sendiri lebih suka dengan variasi yang tetap bercitarasa lokal.

"Coba buat martabak daun suji. Lebih enak dan unik menurut saya. Daripada martabak red velvet," chef Haryanto berpendapat.

Sementara untuk memicu tren, ada media sosial yang berperan besar.

"Bagi saya, kalau kita membicarakan suatu produk terus menerus, orang akan ikut penasaran. Nantinya bisa jadi tren. Ditambah lagi sekarang zaman Instagram. Tinggal foto (makanan) terus share kemana-mana, itu yang membuat jadi ngetren," tutur chef berkacamata ini.

Tidak cuma di dalam negeri, chef Haryanto sempat bercerita bahwa sebenarnya kue Indonesia juga disukai orang asing. Tiap ke​ ​luar negeri, ia melakukan demo kue Indonesia. Misalnya kue pukis. "Orang mungkin ngomong kok jajanan ndeso, saya nggak peduli," ujar chef Haryanto apa adanya.



Ternyata saat ia ke Afrika dan melakukan demo kue pukis, pengunjung datang lagi keesokan harinya. "Saya tanya kenapa datang lagi. Mereka bilang, 'Saya tunggu pukis itu, kok enak. Seperti pancake tapi ada tekstur yang empuk-empuk'," kisahnya.

Bagi chef Haryanto, penguasaan makanan Indonesia bisa memperkenalkan sekaligus mengangkat produk lokal di mata orang luar.

"Kita mau demo​ masak ke​ ​mana saja, orang asing kan tidak paham makanan Indonesia. Pasti mereka akan tanya sama kita. Sedangkan kalau kita buat cake yang sama dengan mereka, orang di​ ​sana mungkin lebih pintar dan akan kurang menganggap kita," tutup pria yang berprofesi sebagai Technical Service Manager PT. Sinar Meadow International Indonesia.

(msa/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads