Mengandung Logam, Skippy Tarik Hampir 1 Ton Produksi Selai Kacangnya

Tania Natalin Simanjuntak - detikFood Selasa, 03 Nov 2015 14:29 WIB
Foto: Thinkstock / Getty Images
Jakarta - Pencinta selai kacang di Amerika bisa​ saja kecewa. Pasalnya, belum lama ini produsen Skippy Reduced Fat Creamy Peanut Butter menarik sekitar 800 kilogram selai produksi mereka.

Mengapa beratus kilogram selai yang sudah dijual sejak 1933 ini sampai ditarik dari pasaran? Ternyata, wadah tempat selai ini didapati mengandung bahan logam yang berbahaya. Kejadian yang tak biasa ini tentu dapat memberikan risiko yang tak baik untuk konsumen.



Risiko tersebut bisa saja seperti tersedak, infeksi, dan penyakit gastrointestinal, yaitu penyakit seputar perut dan usus, seperti yang dilansir dari Food and Drug Administration (FDA). Badan kesehatan di Amerika Serikat ini menemukan bahwa ada serpihan kecil logam yang bersemayam di dalam kemasan melalui pengecekan magnet yang rutin.

Sebanyak 153 kemasan yang ditarik mengandung sedikitnya 7 mm serpihan logam yang ditakutkan tersebut. Menurut badan ini lagi, selai yang telah terkontaminasi logam tersebut adalah selai Creamy Reduced Fat Skippy Peanut Butter yang berisi kode tanggal best before DEC1416LR1 dan kode UPC 37600-10500 pada tutup kemasan.

Selai kacang ini tadinya telah tersebar di sekitar Georgina, Alabama, North Carolina, South Carolina, Delaware, dan Arkansas. Jika ada konsumen yang telah terlanjut membelinya, pihak Hormel akan bersedia untuk menggantikan produk ​dengan​ yang sudah pasti bebas logam.

“Masuknya logam tersebut karena adanya mesin kami yang rusak di pabrik. Alat kami sudah diperbaiki, dan hanya sebagian kecil selai yang terkena risikonya,” jelas Rick Williamson, juru bicara dari Hormel, produsen selai Skippy pada USA TODAY, (03/11).



“Kami tadinya ingin menghancurkan produk berisiko tersebut, namun produk tersebut secara tak sengaja keluar dari pabrik dan sampai pada konsumen,” sambungnya lagi.

Sampai saat ini, pihak Skippy belum menerima laporan negatif apa pun terkait kejadian ini. Namun, ​bisa saja​ kejadian ini bukan yang pertama kali dan juga terjadi pada negara lain yang tingkat pemeriksaan produk kemasannya jauh lebih rendah.

(lus/odi)