Salamander Raksasa yang Nyaris Punah Jadi Hidangan Festival di China

Salamander Raksasa yang Nyaris Punah Jadi Hidangan Festival di China

Maya Safira - detikFood
Kamis, 01 Okt 2015 18:29 WIB
Foto: AFP
Jakarta - Salamander raksasa di China termasuk amfibi nyaris punah. Namun hewan ini disajikan dalam sebuah festival dan dipromosikan sebagai bahan pengobatan berusia 350 juta tahun.

Kota Zhangjiajie di China menjadi cagar alam dan museum bagi salamander raksasa. Festival tahunan pun didadakan untuk mempromosikan pariwisata berbasis salamander.

Menurut laporan AFP (24/09), nenek moyang salamander raksasa yang hampir tidak berubah bentuknya dapat ditelusuri kembali ke periode Jurassic. Festival ikut disebut sebagai "Sebuah Harta Pelestarian Kesehatan Berusia 350 Tahun".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salamander raksasa diyakini bermanfaat bagi kulit dan hati dalam pengobatan tradisional Cina. Meski belum ada bukti ilmiah terkait kepercayaan tersebut.



"Peternakan salamander raksasa yang memerlukan air bersih, sebenarnya mendorong penduduk setempat untuk melindungi lingkungan. Industri ini juga membantu masyarakat setempat keluar dari kemiskinan," ujar salah satu pejabat setempat pada kantor berita Xinhua.

Kantor pariwisata provinsi Hunan mengatakan festival diadakan selama tiga hari untuk memperkenalkan sajian dan produk dari salamander raksasa.

Chef pun bersaing dalam kompetisi kuliner dalam menyajikan hidangan lezat dari amfibi terbesar yang bisa tumbuh hingga panjang 1,8 meter itu. Pejabat lokal mengatakan semua daging salamander di festival didapat secara legal.

Salamander raksasa sebenarnya diproteksi di bawah hukum China. Akan tetapi konsumsi hewan yang dibesarkan dalam penangkaran diizinkan. Harga dagingnya bisa mencapai $300 (Rp 4,4 juta) per kilogram.

Sementara itu, International Union for the Conservation of Nature (IUCN) memperkirakan jumlah salamander raksasa China sudah berkurang 80 persen di alam bebas dalam beberapa dekade terakhir. Aktivis satwa liar mengutuk perayaan karena memiliki konsekuensi bencana bagi populasi terakhir di alam liar.

"Ada risiko sangat nyata bahwa promosi peningkatan konsumsi salamander raksasa bisa menyebabkan jumlah permintaan naik yang tidak bisa dipenuhi dari sumber peternakan. Dengan konsekuensi bencana bagi populasi liar yang masih bertahan hidup," ucap Richard Thomas dari kelompok pengawas perdagangan satwa liar, Traffic.

(msa/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads