Kota Zhangjiajie di China menjadi cagar alam dan museum bagi salamander raksasa. Festival tahunan pun didadakan untuk mempromosikan pariwisata berbasis salamander.
Menurut laporan AFP (24/09), nenek moyang salamander raksasa yang hampir tidak berubah bentuknya dapat ditelusuri kembali ke periode Jurassic. Festival ikut disebut sebagai "Sebuah Harta Pelestarian Kesehatan Berusia 350 Tahun".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peternakan salamander raksasa yang memerlukan air bersih, sebenarnya mendorong penduduk setempat untuk melindungi lingkungan. Industri ini juga membantu masyarakat setempat keluar dari kemiskinan," ujar salah satu pejabat setempat pada kantor berita Xinhua.
Kantor pariwisata provinsi Hunan mengatakan festival diadakan selama tiga hari untuk memperkenalkan sajian dan produk dari salamander raksasa.
Chef pun bersaing dalam kompetisi kuliner dalam menyajikan hidangan lezat dari amfibi terbesar yang bisa tumbuh hingga panjang 1,8 meter itu. Pejabat lokal mengatakan semua daging salamander di festival didapat secara legal.
Salamander raksasa sebenarnya diproteksi di bawah hukum China. Akan tetapi konsumsi hewan yang dibesarkan dalam penangkaran diizinkan. Harga dagingnya bisa mencapai $300 (Rp 4,4 juta) per kilogram.
Sementara itu, International Union for the Conservation of Nature (IUCN) memperkirakan jumlah salamander raksasa China sudah berkurang 80 persen di alam bebas dalam beberapa dekade terakhir. Aktivis satwa liar mengutuk perayaan karena memiliki konsekuensi bencana bagi populasi terakhir di alam liar.
"Ada risiko sangat nyata bahwa promosi peningkatan konsumsi salamander raksasa bisa menyebabkan jumlah permintaan naik yang tidak bisa dipenuhi dari sumber peternakan. Dengan konsekuensi bencana bagi populasi liar yang masih bertahan hidup," ucap Richard Thomas dari kelompok pengawas perdagangan satwa liar, Traffic.
(msa/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN