Kuliner Tradisional Lezat​

Ini Pendapat 3 Chef Muda Indonesia Mengenai Kuliner Lokal

Maya Safira - detikFood Senin, 17 Agu 2015 13:40 WIB
Foto: Getty Images Foto: Getty Images
Jakarta - Indonesia terkenal akan keanekaragaman kulinernya. Pengaruh dari India, Belanda hingga Portugis ikut memberi warna pada hidangan Nusantara. Kini chef muda pun semakin banyak yang tertarik mengangkat warisan kuliner sebagai bentuk pelestarian.​
 
Ada banyak ragam hidangan Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Tiap sajian memiliki ciri khasnya masing-masing. Generasi muda menjadi pewaris kuliner Indonesia. ​ A​pa pendapat​ Chef Norman Ismail, Chef Yuda Bustara dan Chef Budi Lee​ ​tentang kekayaan kuliner nusantara?
 
Menurut Chef Norman Ismail, makanan Indonesia ini unik karena ada banyak jenis dari berbagai provinsi. Pemakaian rempah membuat masakan Indonesia lebih kaya rasa. Namun ia mengakui bahwa kuliner Indonesia banyak mendapat pengaruh dari luar, seperti Timur Tengah dan China​ yang berdagang ke Indonesia.
 
“Seperti nasi kebuli lebih ke Timur Tengah yang memakai rempah khas, misalnya kapulaga. Ada perkedel kentang namanya “frika​del” yang aslinya dari Belanda. Semur daging atau bistik juga hasil pengaruh Belanda, yang membedakan adalah penggunaan rempah lebih kuat,” ucap chef yang sempat membawa acara TV ‘Gila Makan’ ini.
 
Chef Norman juga menyampaikan pendapatnya tentang hidangan nasi campur. Baginya, Indonesia punya ciri khas mengonsumsi nasi. Jadi nasi campur tidak bisa dikatakan secara spesifik misalkan nasi Bali. “Di Indonesia yang khas nasi campur, tidak hanya orang Bali atau Yogya tapi orang Indonesia pemakan nasi dan lauk pauk. Semua adalah nasi campur, Tidak harus ada ketentuan, akan tetapi nasi campur bisa dibuat sesuai selera tergantung keinginan,” jelasnya.
 
Adapun Chef Yuda Bustara mengatakan semakin kaya budaya suatu tempat maka semakin beragam jenis makanannya. Baginya, ini hal paling menarik dari Indonesia karena tiap daerah punya makanan tradisi masing-masing.
 
“Ambil saja soto sebagai contoh. Setiap daerah memiliki jenis soto yang berbeda-beda. Kalau dari rasa, otomatis berpengaruh dari bumbu yang tumbuh di tanah daerah tersebut. Contohnya di Minang banyak sekali tumbuh kelapa dan kelapa juga bahan yang paling sering dipakai dalam masakan Minang,” tutur pembawa tayangan TV ‘Urban Cook’.
 
Sedangkan pengaruh budaya misalnya di Bali, tambahnya. Karena rata-rata masyarakat di sana beragama Hindu, jadi banyak sekali makanan khas Bali yang memakai b​abi.
 
Chef Budi Lee yang sempat menjabat President of Young Chef Club Indonesia, menyebut kuliner Indonesia adalah warisan kuliner terkaya di dunia. Keragaman dari Sabang sampai Merauke sangat banyak dan akulturasi budaya yang majemuk. Ini bisa dilihat dari ‘corak’ rasa makanan di tiap daerah yang dipengaruhi pemakaian bumbu.
 
Chef Budi mencontohkan corak rasa makanan Padang dengan rempah dan santan, makanan Jawa Tengah relatif manis dan banyak memakai kecap manis, makanan Sunda kebanyakan gorengan dan lalapan. Sedangkan masakan Manado cenderung pedas dan sedikit asam.
 
“Dari sini saja sudah terlihat masakan dari beberapa daerah tersebut sudah tidak ada benang merah yang bisa menyatukan semuanya. Artinya keragaman makanan kita luar biasa banyak,” tukas pemilik Munchies Bistro ini.
 
Senada dengan Chef Norman, ia juga menyampaikan adanya pengaruh budaya luar dalam kekayaan kuliner Nusantara. Misalnya klapertaart, lapis legit, mie ayam, rendang dan lainnya. Namun ia menambahkan keragaman tersebut bisa jadi suatu kelebihan sekaligus kekurangan.
 
“Kelebihan karena memang diversity yang luar biasa. Kekurangan karena kita tidak bisa mengambil kesimpulan apa sih “benang merah” kuliner Indonesia. Dimana benang merah ini bisa jadi identitas atau simbol kuliner Indonesia,” tambahnya.
 
Adanya kekayaan kuliner ini tentunya perlu dilestarikan. Chef Norman menambahkan bahwa jangan sampai makanan asli Indonesia diklaim oleh negara tetangga.
 
Memperkenalkan kuliner tanah air ke mancanegara juga perlu dilakukan. “Kalau bukan kita yang mempromosikan, siapa lagi. Caranya bisa bekerjasama dengan kedutaan untuk membuat Indonesian Fair yang tidak hanya membawa kebudayaan tapi juga ragam kuliner Indonesia,” tambah Chef Norman.



(adr/odi)