ADVERTISEMENT

Bubuk dan Kantung Teh Celup Ini Disulap Jadi Kimono, Selimut Hingga Lukisan Unik

Lusiana Mustinda - detikFood
Rabu, 29 Jul 2015 16:20 WIB
NPR
Jakarta -

Setelah menyeduh teh, biasanya Anda langsung membuangnya. Karena kantung teh yang terbuat dari bahan kertas ini dimaksutkan untuk satu kali pakai. Namun beberapa seniman membuat kantung teh menjadi sesuatu yang lebih berhaga dan memiliki nilai seni tinggi.

Wewer Keohane seniman asal Colorado telah membuat karya seni dari kantung teh dengan menghabiskan waktu selama lebih dari 20 tahun. Kreasi yang cukup mengagumkan adalah teh celup yang dibentuk menyerupai kimono. Setiap pakaian dibuat dengan setidaknya 600 kantong teh yang sudah direndam, dikeringkan dan disusun dengan rapih.

Selain Kohane, ada juga Ruth Tabancay dari Barkeley, California. Ia membuat serangkaian kantung teh yang dibuat menjadi selimut. Untuk membuat selimut ini Ruth membutuhkan sebanyak 1.400 kantong teh membuatnya.

Desainer asal Rusia Andrew Gorkovenko telah menggunakan daun teh kering untuk membuat lukisan menarik. Ia mendapatkan inspirasi dari sandpainting, butiran pasir yang berwarna dapat digunakan untuk menggambar. Dan ia pun mulai memikirkan hal yang sama dapat dilakukan dengan serbuk daun teh.

"Banyak orang yang melihat kesamaan ini, tapi melukis dengan daun teh ternyata lebih sulit," tutur Gorkovenko. “Tidak seperti pasir, teh kering memiliki bentuk dan ukuran yang tidak seragam,” tambahnya.

Untuk menghasilkan couture tekstil dari teh, Keohane telah menjadi sangat akrab dengan warna dan bentuk kantung dari beberapa daerah. Teh hijau memiliki warna hijau muda yang menempel di kantorng sementara teh blueberry sedikit menghasilkan warna ungu.

Kimono teh ini memiliki warna yang sedikit merah, karena ia menggunakan kantung dari teh delima. Menurutnya, kantong teh bukanlah benda rumah tangga yang biasa, tetapi terlihat sangat unik karena masing-masing memiliki bobot, bentuk dan warna yang sedikit berbeda.

“Seperti upacara minum teh di Jepang, membuat kimono dari kantung teh juga memerlukan tingkat kesabaran yang tinggi pada setiap helai potongannya,” jelas Keohane dalam NPR (28/07/15).

(lus/odi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT