Seperti diberitakan Delish (28/07/15), profesor pediatri di sekolah kedokteran Universitas Indiana, Aaron E. Carroll mengatakan pemanis tambahan seperti sakarin dan aspartam tidak seburuk yang dipikir. Ia berusaha meluruskan persepsi masyarakat mengenai keduanya selama ini.
Isu paling terkenal terjadi sekitar tahun 1977. Saat itu sakarin dikabarkan menyebabkan kanker setelah ilmuwan melakukan penelitian pada sejumlah tikus. Karenanya masyarakat Amerika dilarang mengonsumsi produk makanan apapun yang mengandung sakarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu hubungan antara konsumsi sakarin dengan kanker kandung kemih belum terbukti pada manusia. Sakarin juga sudah dihilangkan dari daftar karsinogen pada tahun 2000.
Isu lainnya yang juga beredar adalah tentang aspartam. Sebuah studi pada tahun 1996 mengatakan pemanis buatan ini menyebabkan kanker otak. Carroll meluruskan, kanker yang dimaksud dalam penelitian tersebut terjadi pada orang tua berusia diatas 70 tahun. Mereka bukanlah pengonsumsi utama aspartam.
βBeberapa orang masih saja mengaitkan aspartam dengan studi pada tikus yang dilakukan untuk menguji sakarin. Padahal ini sama sekali berlawanan. Lagi pula, seperti yang kita lihat dari sakarin, ada perbedaan besar antara tikus dan manusia,β tambah Carroll.
Carroll menuturkan gula tambahan yang secara alami tidak terdapat pada bahan makanna justru lebih berbahaya. Anak-anak di Amerika mengonsumsi 282-362 kalori dari gula tambahan setiap harinya. Tak heran obesitas menjadi epidemi disana.
Asupan gula tambahan dikabarkan dapat meningkatkan lemak dan berat badan seseorang secara signifikan. Sedangkan asupan pemanis tambahan menyebabkan kenaikan keduanya hanya dalam jumlah kecil.
(tan/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN