Permintaan rempah dunia terus melonjak, sehingga meskipun produksi diperbanyak tetap memicu harga naik. Terutama lada, yang biayanya sudah melambung tinggi. Harga grosir lada telah meroket dalam waktu bersamaan, lebih dari 300 persen dalam lima tahun terakhir.
Naiknya permintaan dari negara-negara Timur Jauh yang sudah mulai menggunakan lada belakangan ini. Harga lada naik 40 persen hanya dalam satu tahun terakhir. Hingga kini supermarket telah menyerap biaya peningkatan grosir lada. Tetapi para ahli mengatakan pembeli ritel akan tetap menghadapi harga tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan tersebut mengatakan penyebab tingginya harga adalah karena lonjakan permintaan konsumen. Antara tahun 1991 dan 2011, permintaan dari pasar negara berkembang seperti Asia Tenggara telah meningkat hampir empat kali lipat. Permintaan lada di China juga naik lebih dari 200 persen selama dekade yang sama.
Konsumsi lada juga telah meningkat di pasar tradisional benua Eropa. Di Eropa, harga lada naik sebesar 15 persen dan 45 persen di Amerika Utara sebagai negara yang warganya menggunakan lada sebagai bumbu untuk menambah rasa pada masakan mereka.
Hal ini juga telah menyebabkan konsumsi lada di seluruh dunia meningkat sebesar 60 persen selama periode yang mencapai 430.000 ton lada pada tahun 2011 lalu.
Di wilayah negara bagian Timur, peningkatan ini disebabkan oleh tingginya konsumsi hidangan daging yang membutuhkan bumbu yang cukup banyak termasuk lada untuk meraciknya. Sementara itu, akibat masalah produksi di Vietnam menyebabkan produksi lada turun sebanyak 13 persen. Importir lada kini beralih ke negara-negara lain seperti India, Sri Lanka dan Indonesia.
Seperti dikutip dailymail.uk (23/7) Jara Zicha, seorang analis pasar di Mintec mengatakan kepada majalah Grocer bahwa bahkan dengan produksi yang tinggi dari produsen kecil namun pertumbuhan permintaan yang terus menerus melonjak serta rendahnya produksi dari Vietnam menjadikan harga lada tetap tinggi.
(adr/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN