Seperti sebuah restoran yang sampai menyediakan piring khusus untuk memotret makanan dengan menggunakan smartphone. Tetapi di Prancis ada restoran yang melarang pelanggannya untuk memotret makanan restoran tersebut.
Namun, beberapa restoran di Hong Kong menanggapi tren tersebut sebagai sebuah nilai plus untuk perkembangan restoran. Menurut The Guardian (01/07), pengaruh foto yang diunggah di media sosial dapat mempengaruhi menu yang disajikan. Makanan yang dipotret terlihat menarik dan membuat orang ingin menyambangi restoran tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Hong Kong dan Macau, mengunggah foto makanan di Instagram atau media sosial lain sudah menjadi hobi. Salah satu restoran yang menyiapkan hidangan makanan siap diunggah di media sosial adalah restoran di Hong Kong, Tycoon Tann. Restoran ini menyajikan menu China modern yang telah dikembangkan oleh tim dapur serta bagian pemasarannya secara bersamaan.
“Dengan semakin banyak orang yang terlibat untuk mengunggah foto makanan di media sosial, hal ini telah menjadi alat promosi. Gambar visual yang eye-catching pada foto dapat menarik pengunjung untuk datang dan mencoba mencicipi hidangan tersebut,” ujar Cherry Lo, direktur Tycoon Tann.
Blogger Ale Wilkinson dari blog Dim Sum Diaries mengatakan bahwa sebuah restoran pasti mengambil keuntungan dari makanan yang diunggah di berbagai media sosial. Layaknya mendapat promosi gratis.
Executive chef, Guillaume Galliot dari one-Michelin star The Tasting Room by Galliot, sangat kreatif dalam hal plating dan presentasi hidangan. Ia memakai piring yang bebahan batuan atau mangkuk kaca berongga yang berisikan bunga segar. Bagaimanapun, ia tidak melakukannya untuk memamerkannya di jejaring sosial media.
Tetapi tak bisa dipungkiri bahwa sosial media merupakan kunci untuk mempengaruhi orang.
“Kita senang untuk membuat konsumen terkejut dengan hidangan yang kita tawarkan dan memotret hidangan kami. Jika mereka mengunggahnya ke sosial media adalah nilai tambah untuk restoran kami,” tutur Lo.
Lo menyebut hidangan pork BBQ Tycoon Tann sebagai contoh. Hidangan tersebut disajikan di sebuah piring penghangat sehigga dapat menjaga makanan tetap panas meskipun sudah dipotret dan diunggah di medai sosial dulu.
Makanan lainnya, seperti bola nasi wijen raksasa yang disebut dengan “The Pearl of the Dragon”, sengaja diciptakan untuk dampak visual.Menu ini merupakan salah satu menu yang paling sering dipotret dan diunggah dari semua menu yang ada di Tycoon Tann.
Namun, menurut Galliot media sosial mengubah cara makanan untuk dinikmati. Pengunjung yang memotret satu makanan akan memakan waktu kira-kira 10 menit atau lebih yang akan menyebabkan kandungan nutrisi pada makanan tersebut sudah hilang karena telalu lama didiamkan. Rasa dan aromanya juga berubah.
Sama halnya dengan Chef Galliot yang lebih suka pengunjung yang menikmati hidangannya daripada memotretnya sedemikan indah, blogger Wilkinson juga mengatakan rasa lebih penting daripada penampilannya.
“Selama hidangan tersebut mempunyai rasa yang lezat sesuai dengan penampilannya, saya tidak terlalu mempedulikanya. Tetapi ketika tampilan dari hidangan tersebut sangat bagus namun rasanya mengecewakan, maka hal itulah yang membuat saya kesal,” tutur Wilkinson.
(msa/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN