Harga Cokelat Terus Naik, Dunia Segera Hadapi Krisis Cokelat

Harga Cokelat Terus Naik, Dunia Segera Hadapi Krisis Cokelat

- detikFood
Jumat, 03 Jul 2015 09:50 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Tekstur lembut dan rasa manis cokelat membuat banyak orang menyukainya. Namun, sayangnya persediaan cokelat dunia kian menipis. Para pelaku industri cokelatpun mulai bersiap menghadapi krisis cokelat.

Msalah krisis cokelat sudah menjadi pembicaraan pelaku bisnis cokelat sejak tahun lalu. Menurut perhitungan mereka pada tahun 2020, 5 tahun dari sekarang dunia akan mengalami krisis cokelat.

Harga cokelat terus meningkat tetapi industri cokelat di dunia tetap berjuang memasok produk cokelat untuk memenuhi permintaan konsumen. Tetapi analisia baru dari Cocoa Barometer  mengungkapkan data mengenai penyelidikan kokoa dunia di Afrika. Menurut mereka ketersediaan kakao dunia dalam bahaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Afrika Barat merupakan negara penghasil biji kakao terbesar di dunia. Lebih dari setengah produk cokelat di dunia tumbuh di negeri ini. Jika penelitian tersebut akurat, maka mungkin tidak akan ada pertanian kakao lagi yang tersisa untuk ditanam maupun dipanen.

Meskipun saat ini harga cokelat naik drastis, sebagian besar biji kakao di dunia masih dijual dengan harga yang relatif rendah. Tidak sebanding dengan permintaan cokelat di seluruh dunia.

Menurut peneliti dari Cocoa Barometer, hal ini terjadi karena petani kokoa hanya diberi upah sedikit sehingga hidup mereka pun jauh dari berkecukupan. Sebagai akibat dari kondisi hidup tersebut, rata-rata petani kakao meninggalkan pekerjaannya dan memutuskan untuk memasuki dunia industri cokelat sebagai buruh pabrik.

‘Meskipun saat ini pertanian kakao sedang diupayakan, tapi kehidupan petani kakao yang mengalami kemiskinan masih belum ditangani’, tutur Antonie Foutain, seorang pendiri dan juga penulis Cocoa Barometer.

‘Jika sektor kakao tidak mengalami perubahan yang mendasar, maka tidak akan ada petani kakao di masa depan,’ tambah Fountain.

Menurut laporan Cocoa Barometer, sebagian besar petani kakao bertahan hidup dengan kurang dari 2$ USD atau sebesar Rp 26.000 per harinya. Padahal hampir 16 persen dari penjualan cokelat di dunia dihasilkan dari benih cokelat yang dibudidayakan kembali. Karenanya tidak merugikan lahan biji kakao lain yang juga sedang panen. Persentase tersebut naik sebanyak 2 persen dari tahun 2009 lalu.




(odi/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads