Dalam Adat Pernikahan Betawi Ada Dadar Telur Gajah dan Mata Ikan Tembak

Tania Natalin Simanjuntak - detikFood Kamis, 18 Jun 2015 10:38 WIB
Foto: DetikHot
Jakarta -

Bagi orang Betawi, makanan bukan sekedar dinikmati tetapi punya makna simbolis​. Karenanya masyarakat Betawi ​memaknai makanan dalam setiap peristiwa penting dalam kehidupan. Dari sunatan hingga pernikahan.​

Menurut JJ Rizal, seorang sejarawan lulusan Universitas Indonesia pada acara 'Bincang-Bincang Bersama JJ Rizal' di Jakarta​ (12/06), keluarga Betawi punya tiga peristiwa penting. Selain hari besar seperti Lebaran, tiga peristiwa itu adalah: nyunatin, ngawinin, dan matiin. Atau​ sunat, pernikahan, dan kematian.

“Dari ketiga peristiwa itu, yang paling penting dan paling panjang prosesnya dalam adat Betawi adalah peristiwa pernikahan.Karena itulah roti buaya menjadi simbol pernikahan, karena buaya adalah hewan yang paling setia,” kata JJ Rizal. ​

Dalam pernikahan, tentu saja ada hidangan yang spesial. Salah satunya adalah sayur besan. Tapi, yang unik justru satu peristiwa bernama kekudeng. Pertanyaan syarat dari calon mertua laki-laki ke calon mempelai perempuan. Biasanya, orang Betawi yang masih mengikuti adat menanyakan apa yang sang ​calon ​menantu mau agar anak laki-lakinya boleh mempersunting
​dirinya​.

​S​ang perempuan harus menyebutkan permintaannya dengan perumpamaan seperti sebuah makanan. “Kalau sang perempuan menjawab bahwa ia mau 'mata ikan tembak' hal itu bukan berarti mata dari ikan tembak. Maksudnya,​ sang perempuan menginginkan berlian. Inilah yang seringkali membuat para calon mertua merinding,” ungkap​ JJ Rizal.

Ada banyak perumpamaan lain yang dibuat para perempuan demi mengungkapkan kemauannya. Tapi, yang pasti perumpamaan tersebut berbentuk seolah-olah seperti makanan. Lucunya, jika seorang perempuan menjawab 'dadar telur gajah'.
​ ​
Hal ini akan membawa berita buruk untuk calon mempelai laki-laki dan seluruh keluarganya.
“Kalau pihak perempuan menjawab 'dadar telur gajah' itu artinya 'lu pulang aje sama keluarga lu' atau sang perempuan menolak permintaan lamaran sang laki-laki," tutur JJ Rizal sambil tertawa.

Sampai sekarang, tradisi unik ini masih dijalankan oleh keluarga Betawi dalam menikahkan anak-anaknya. Memang, ada juga yang tidak melakukan tradisi ini, karena banyaknya orang yang menginginkan kepraktisan. “Padahal, sudah sewajibnya orang Betawi tetap menjaga adat tersebut agar tetap lestari,” tutup pria yang akrab dipanggil Rizal ini.

(tan/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com