Kuliner Palembang

Populasi Menurun, Pempek Palembang Tak Lagi Pakai Daging Ikan Belida

Tania Natalin Simanjuntak - detikFood Selasa, 26 Mei 2015 08:57 WIB
Foto: Wikipedia Foto: Wikipedia
Jakarta -

Pempek, atau empek-empek hanya salah satu dari banyak makanan khas Palembang. Makanan ini jadi makanan wajib sehari-hari. Kinipun pempek dikenal di berbagai daerah. Ikan belida dari sungai Musi yang menjadi bahan utama pempek inipun makin susut jumlahnya.

​P​empek Palembang yang terkenal gurih karena berasal dari daging ikan belida.​ Ikan ini konon hanya berada di perairan tertentu. Sebelum pempek ​dibuat dari ikan tenggiri dan ikan gabus seperti sekarang, ikan Belida menjadi ikan 'primadona' untuk pembuatan pempek​.

Ikan Belida, ikan belido, atau ikan lopis, adalah nama dari ikan yang berbentuk pipih ini. Bentuknya hewan ini memang agak tak lazim, karena perutnya lebar dengan punggung yang tinggi, karenanya ​disebut ikan berpunggung pisau. Ikan Belida (Notopterus chitala/ Citala lopis) ini hanya hidup di perairan yang terbentang dari Sumatera, Kalimantan, sebagian Jawa, dan Semenanjung Melayu. Di daerah Sumatera Selatan, Belida ada​ di perairan Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Musi Rawas, Muara Enim, dan sebagian Kabupaten Lahat.

Kelezatan daging ikan inilah yang membuat pempek​, tekwan, laksan, dan celimpungan jadi enak. Semakin hari, semakin banyak orang yang mengambil ikan ini di Sungai Musi untuk diperjualbelikan. Permintaan ikan ini semakin tinggi dan datang dari dalam dan luar daerah Palembang. Belida pun jumlahnya semakin sedikit karena banyaknya orang yang memburunya.

Harga Belida juga semakin mahal​ seekor Belida dengan panjang maksimal sekitar 100 cm dengan berat 0,5 – 1 kilogram bisa berharga 300 ribu rupiah per ekornya. Disamping itu​ semakin banyak orang yang menangkap ikan ini dengan cara yang tidak layak, seperti menggunakan pukat harimau.

​Karenanya ada ​larangan untuk mengambil ikan ini dari perairan karena populasinya terus menurun. Sekarang, ​pempek​, tekwan, dan makanan lainnya lebih sering menggunakan ikan tenggiri, ikan gabus, dan ikan kakap​.

Larangan untuk mengonsumsi Belida akhirnya keluar setelah produksi ikan ini terus menurun setiap tahunnya. Menurut catatan Dirjen Perikanan, ​t​ahun 1991 produksinya mencapai 8.000 ton, kemudian tahun 1995 menjadi 5.000 ton, dan tahun 1998 menjadi​ 3.000 ton.​

​Ikan ini​ memang unik. Ia hampir tak bersisik, sehingga ia mempunyai risiko yang amat besar
​terluka ​di dalam air jika bersinggungan dengan ikan yang bersisik tajam. Selain itu, belida​
memang agak sulit diternakkan secara massal seperti ikan mas atau lele. I​kan Belida sudah menjadi simbol dari ibu​kota di Sumatera Selatan. Sekali ikan ini punah, maka tak ada lagi hewan yang jadi ciri khas daerah ini.



(Tania Natalin Simanjuntak/Odilia Winneke)