Para peneliti dari North Carolina State University ini ingin mengetahui mengapa beberapa spesies semut dapat tetap bertahan hidup walaupun bukan di hutan, kebun, atau habitat asli mereka. Semut-semut ini bisa bertahan hidup di kawasan masyarakat urban yang tinggal di daerah bergedung beton dan besi.
Para peneliti ini pun mengatakan bahwa hampir semua spesies semut yang berada di jalan Manhattan telah mencoba makanan manusia. Hal ini terbukti dari kadar isotop dari setiap hewan yang berbentuk mini ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kadar isotop ini adalah sejenis karbon yang tergabung dalam setiap makanan mereka. Ada satu karbon bernama carbon-13 yang ada dalam rerumputan, ada juga dalam sirup jagung dan gula halus. Keduanya memang hadir dalam setiap makanan masa kini, termasuk burger dan segala macam makanan olahan.
Semut-semut yang paling banyak mengonsumsi makanan manusia adalah semut yang berada di bahu jalan atau trotoar (Tetramorium Sp. E). Semut- semut ini paling banyak mengandung carbon-13. Hal ini berarti jenis-jenis semut yang tinggal paling dekat dengan kita adalah semut yang paling bisa bertahan hidup dengan memakan makanan manusia. Berbeda dengan semut yang ada di taman atau hutan kecil.
Semua fenomena ini juga jadi merujuk pada satu hal. Semakin banyak makanan yang kita makan, semakin banyak juga jumlah populasi semut-semut pemakan makanan manusia ini. Dan semakin hari, kemungkinan porsi makan mereka semakin banyak.
Walau secara fisik bentuknya kecil, semut menunjuk kepada banyak hal besar, termasuk ekosistem lingkungan. Semakin banyak makanan manusia terbuang, semakin besar populasi semut berkembang.
(tan/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN