Kini Semutpun Melahap Makanan Manusia untuk Bertahan Hidup

Kini Semutpun Melahap Makanan Manusia untuk Bertahan Hidup

- detikFood
Kamis, 16 Apr 2015 06:30 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Kita hanya mengetahui bahwa semut mengonsumsi makanan manis. Padahal semut juga mengonsumsi semua makanan manusia. Akibatnya populas semut pun berkembang dengan pesat.



Para peneliti dari North Carolina State University ini ingin mengetahui mengapa beberapa spesies semut dapat tetap bertahan hidup walaupun bukan di hutan, kebun, atau habitat asli mereka. Semut-semut ini bisa bertahan hidup di kawasan masyarakat urban yang tinggal di daerah bergedung beton dan besi.


Para peneliti ini pun mengatakan bahwa hampir semua spesies semut yang berada di jalan Manhattan telah mencoba makanan manusia. Hal ini terbukti dari kadar isotop dari setiap hewan yang berbentuk mini ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Clint Penick ini telah mengumpulkan 100 sampel semut, 21 spesies, dan lusinan serangga jalanan yang mereka teliti. Rangkaian penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan spesies semut mana yang paling bisa bertahan hidup dengan cara memakan sisa-sisa makanan manusia.

Kadar isotop ini adalah sejenis karbon yang tergabung dalam setiap makanan mereka. Ada satu karbon bernama carbon-13 yang ada dalam rerumputan, ada juga dalam sirup jagung dan gula halus. Keduanya memang hadir dalam setiap makanan masa kini, termasuk burger dan segala macam makanan olahan.

Semut-semut yang paling banyak mengonsumsi makanan manusia adalah semut yang berada di bahu jalan atau trotoar (Tetramorium Sp. E). Semut- semut ini paling banyak mengandung carbon-13. Hal ini berarti jenis-jenis semut yang tinggal paling dekat dengan kita adalah semut yang paling bisa bertahan hidup dengan memakan makanan manusia. Berbeda dengan semut yang ada di taman atau hutan kecil.

Semua fenomena ini juga jadi merujuk pada satu hal. Semakin banyak makanan yang kita makan, semakin banyak juga jumlah populasi semut-semut pemakan makanan manusia ini. Dan semakin hari, kemungkinan porsi makan mereka semakin banyak.

Walau secara fisik bentuknya kecil, semut menunjuk kepada banyak hal besar, termasuk ekosistem lingkungan. Semakin banyak makanan manusia terbuang, semakin besar populasi semut berkembang.

(tan/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads