Ternyata Brunch di Akhir Pekan Sudah Dilakukan Sejak Abad 19

- detikFood Selasa, 10 Mar 2015 13:28 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta -

Brunch, santapan yang dilakukan di antara breakfast dan lunch, kini makin populer dilakukan di akhir pekan. Menurut sosiologis bernama Farha Ternikar, brunch sudah digemari sejak tahun 1896.

Brunch adalah kegiatan menikmati makanan yang berlangsung diantara jam sarapan dan jam makan siang. Di Amerika sendiri, kebiasaan makan ini terbawa dari orang Inggris yang pada saat itu bermigrasi ke Amerika. Mereka mulai membuat brunch saat akhir pekan. Saat dimana mereka tidak bekerja dan tidak harus menikmati makan siang.

Pada akhir pekan inilah, mereka juga biasa mencari makan di luar rumah sembari menikmati akhir pekan. Orang-orang Amerika ternyata senang untuk mencari makanan yang unik dan belum pernah mereka nikmati sebelumnya. Makanan yang mereka cari umumnya makanan ringan, tidak terlalu berat seperti steak tapi tidak terlalu ringan seperti kudapan.

Roti panggang telur dan sedikit daging adalah favorit orang Amerika untuk menu brunch. Dagingnya pun beragam, dari ayam, sapi, babi, hingga daging rusa. Biasanya, daging ini tidak disajikan dengan banyak.

Seperti di banyak negara-negara lainnya, brunch kemudian menjadi tren karena didukung oleh anak muda, khusunya kalangan mahasiswa. Mereka menyukai makanan yang praktis dan lezat, seperti Eggs Benedict .

Hidangan ini jadi sangat populer, karena seorang Mrs. Le Grand Benedict ingin menikmati sesuatu yang berbeda untuk brunch-nya. Ia pun menyuruh pelayan di restoran Delmonico’s di New York membuat hidangan telur seperti yang ia mau. Telur inilah yang menjadi Eggs Benedict yang populer itu.

Masih menurut Farha Ternikar, ia membagi fenomena brunch ini menjadi tiga tahap. Yaitu, tahap tahun 1920-an, dimana orang-orang menggunakan waktu sarapan hingga makan siang masih dengan minum alkohol seperti Bloody Mary. Tetapi, kemudian hal ini dilarang dan di tahun 1950-an brunch mulai terkenal sebagai alternatif kegiatan minum-minum tersebut.

Di tahun-tahun ini, brunch masih menjadi kegiatan orang-orang dari kalangan menengah ke atas, dan pada tahun 1933, brunch menjadi acara makan-makan yang terbatas dari gender saja. Hal ini terbukti dari sebuah tulisan dari Ruth Chambers di Washington Post menyebutkan bahwa brunch adalah alternatif acara sosial wanita dari kalangan profesional.

Tahap ketiga adalah tahapan dimana brunch sudah menjadi semacam kebutuhan. Karena, brunch merupakan saat suatu komunitas berkumpul dan bersosialisasi. Dari sinilah, mereka membicarakan masalah bisnis, gaya hidup, hingga masalah pribadi. Walau begitu, brunch masih dilabeli dengan “kegiatan wanita”. Ada beberapa kalangan menganggap hal ini dinilai aneh jika brunch dilakukan oleh para pria.

Di Indonesia, khususnya Jakarta, brunch masih terbilang baru. Kalangan yang mengikuti kegiatan ini juga berasal dari kalangan menengah ke atas. Pertumbuhan restoran yang menjamur menawarkan menu brunch juga menjadi alasan mengapa brunch semakin populer.

Menu brunch di kalangan sosialita Jakarta pun tak jauh-jauh dari pasta, sandwich, dan burger. Banyak yang tidak memilih makanan Indonesia karena terlalu berat dan banyak. Beberapa resto menawarkan champagne dan wine sebagai minuman spesial pengiring brunch.

(tan/odi)