Ternyata Makanan yang Dikonsumsi Sebelum Tidur Berpengaruh pada Mimpi

Ternyata Makanan yang Dikonsumsi Sebelum Tidur Berpengaruh pada Mimpi

- detikFood
Rabu, 11 Feb 2015 14:37 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Apa yang Anda ​makan​ sebelum tidur? ​M​inum segelas susu? atau mengunyah​ sepotong pizza? Kini berhati-hatilah dengan​
makanan dan minuman yang Anda ingin konsumsi menjelang tidur. Karena makanan bisa berpengaruh pada mimpi!​

Menurut penelitian yang dilakukan oleh psikolog asal Kanada, Tore Nielsen dan Russell Powell, kebiasaan makan menjelang tidur ternyata berpengaruh terhadap pola tidur dan juga mimpi yang akan muncul. Nielsen dan Powell melakukan survei terhadap 400 mahasiswa terdiri 130 orang pria, dan 264 orang wanita. Mereka meneliti makanan yang dikonsumsi, pola tidur, dan pengalaman mimpi masing-masing.

Artikel mereka berjudul "Dreams of the Rarebit Fiend: Food and diet as instigators of bizzare and disturbing dreams" dimuat dalam jurnal Frontiers in Psychology 6 (2015). Judul artikelnya mengacu pada komik strip yang pernah populer di tahun 1900an karya Winsor McCay yang berjudul Dream of the Rarebit Fiend. Cerita ​mengenai orang-orang yang memakan rarebit dengan saus keju seketika dapat​ mimpi buruk ketika tidur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nielsen dan Powell menemukan jika 18 persen partisipan merespon jika makanan memiliki pengaruh buruk terhadap mimpi. Partisipan yang terlibat teridentifikasi dengan beberapa penyebab berbeda mengenai pengaruh makanan dengan mimpi mereka. ​

​Diantaranya:​
 
1. Makan terlalu banyak di malam hari bisa menyebabkan susah tidur dan rasa tidak nyaman.
2. Mengonsumsi makanan tertentu seperti olahan susu dan makanan pedas bisa menyebabkan masalah pencernaan dan pola tidur terganggu.
3. Berpuasa atau diet bisa mengubah salah satu fungsi
​organ ​dalam tubuh sehingga berpengaruh terhadap isi dan intensitas mimpi. Menurut Nielsen dan Powell, berpuasa adalah metode klasik yang dipakai untuk inkubasi mimpi.​
Hasil dari penelitian ini cukup relevan bagi orang-orang yang mengalami gangguan pola makan. Temuan Nielsen dan Powell ini menunjukkan adanya kaitan terapi yang potensial antara pola makan dengan pengalaman tidur dan mimpi.

Hanya saja ​diperlukan perhatian khusus terhadap orang-orang tersebut dalam meningkatkan kualitas tidur dan mimpinya.​ Nantinya juga membantu mereka berlatih agar memiliki pola makan yang sehat dan gaya hidup yang seimbang. Penelitian ini juga memiliki relevansi antara penderita trauma dengan penanganannya. Nielsen dan Powell juga merujuk pada gangguan makan binge-eating. S​alah satu gejala dari post-traumatic stress disorter (PTSD), yang akan menimbulkan gangguan pola tidur dan seringnya mengalami mimpi buruk.

Mungkin upaya terapis untuk meningkatkan pola makan dari penderita PTSD mampu membantu mengurangi gangguan sulit tidur dan gangguan mimpi mereka. Meski Nielsen dan Powell mengakui penelitiannya masih terbatas. ​Hampir​ 30 tahun yang lalu, antropolog Barbara Tedlock menanyakan mengapa hanya sedikit ilmuwan yang tertarik untuk meneliti peran makanan dengan mimpi.​ P​adahal makanan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia dibanding agresi atau bahkan seks.

(tan/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads