Berapa Kali Jilatan Diperlukan untuk Menghabiskan Satu Lolipop?

Berapa Kali Jilatan Diperlukan untuk Menghabiskan Satu Lolipop?

- detikFood
Selasa, 10 Feb 2015 14:55 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Permen loli biasanya dinikmati dengan jilatan. Karena panas lidah akan membuat gula pada loli meleleh. Namun, tak pernah ada orang yang memikirkan berapa kali jilatan diperlukan agar permen habis?

Tetapi, hal ini malah menarik perhatian sejumlah peneliti. Karenanya mereka menghitung berapa jumlah jilatan lidah manusia pada permen loli sampai habis. Rupanya peneliti punya alasan melakukan penelitian tersebut.

Mereka ingin mengetahui seberapa banyak waktu dan jumlah yang dibutuhkan sebuah benda padat berubah bentuk karena reaksi cairan. Penelitian dari Florida State University ini pun dimuat pada Journal of Fluid Mechanics, jurnal yang mempelajari cairan-cairan (fluida).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penelitian ini juga bukan iseng belaka. Penelitian dipimpin oleh Jinzi Huang, seorang mahasiswa program doktoral di Courant Institute, dan juga Profesor Nicholas Moore, dari Departemen Matematika Florida, Amerika Serikat.

Asisten Profesor Leif Ristroph, yang juga bagian dari penelitian ini, mengatakan bahwa timnya ingin mengetahui bagaimana cara kerja cairan yang mengepung suatu benda padat sehingga mengubah bentuknya.

Mereka memulai riset dengan merendam permen bertekstur keras di dalam terowongan air dengan aliran air yang kencang. Mereka kemudian menemukan keanehan. Perlahan tapi pasti bentuk permen itu berubah dan akhirnya habis. Hal serupa juga terjadi pada permen yang sama namun arus air yang berbeda.

Berdasarkan penelitian itu juga, para peneliti akhirnya menemukan yang selama ini menjadi pertanyaan sedari mereka kecil. Mereka menemukan jumlah jilatan yang diperlukan agar permen habis sekitar 1.000 kali jilatan.

Tak hanya menyentuh bidang kimia, penelitian ini juga masuk dalam bidang matematika, fisika, hingga geografi. Cara kerja aliran air dan benda padat ini mirip seperti aliran air laut pada batu karang di pantai. Ketika para peneliti tahu waktu, jumlah, dan bentuk, mereka akan melanjutkan teori ini ke dalam kehidupan manusia dengan material yang lebih besar lagi.

(msa/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads