Pada Kamis (20/11), World Cold Chain Summit to Reduce Food Waste diselenggarakan di London. Konferensi ini mengeksplorasi cara distribusi dan penyimpanan makanan agar lebih efisien dalam menjaga kesegarannya serta mengurangi pembusukan. Sebab sebagian besar limbah makanan di negara berkembang berasal dari rusaknya cold chain, produksi dan distribusi makanan.
Sedangkan pada negara maju, konsumen sendirilah yang menyebabkan sebagian besar dari limbah makanan. Menurut Wyn Morgan, profesor ekonomi di University of Nottingham, hal tersebut terjadi karena makanan telah menjadi sangat murah. Ini berbeda dengan jaman perang dimana makanan sangat dihargai. Jika bau dan rasa makanan masih enak, orang di masa lampau tetap memilih mengonsumsinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada banyak cara untuk menyelamatkan makanan, mulai dari pembelian dalam jumlah tepat, penyimpanan yang benar, pembekuan sebelum sampai tanggal kadaluarsa, dan memanfaatkan sisa makanan untuk diolah menjadi makanan lain. Melakukan hal tersebut secara tepat membuat makanan tidak perlu dibuang sia-sia," tutur Emma Marsh, ketua kampanye Love Food Hate Waste, seperti dilansir dari National Geographic (20/11/2014).
Emma menyebutkan lebih dari setengah makanan yang dibuang masyarakat Inggris adalah makanan yang sebenarnya masih dapat dimakan. Kebingungan konsumen dan keenganan mengonsumsi makanan yang lewat tanggal kadaluarsa, membuat jutaan ton makanan dengan kondisi sangat baik jadi terbuang sia-sia.
Menurutnya, penggunaan kata-kata berbeda untuk menunjukkan tanggal kadaluarsa pada produk makanan bisa memicu sampah makanan. Padahal "use by", "best before", dan "display until" memiliki arti berbeda. Tapi di mata konsumen, tanggal yang tertera pada produk adalah hal terpenting. Jika tanggal sudah lewat, mereka segera membuangnya.
Emma menjelaskan tanggal "best before" berkaitan dengan kualitas makanan. Ini adalah ukuran seberapa lama produk tetap segar dan bercitarasa paling enak. Biasanya digunakan pada produk kemasan di supermarket. Sebenarnya tidak apa-apa mengonsumsi makanan setelah tanggal "best before" selama rasa, bau dan tampilannya masih baik. Namun ini tidak berlaku pada telur.
Tanggal "use by" sendiri memiliki implikasi keamanan yang pasti sehingga digunakan pada makanan segar seperti daging, ikan dan ayam. Emma mengatakan penanggalan ini harus benar-benar dipatuhi, terlepas dari tampilan dan bau produk.
Adapun tanggal "display until" digunakan pada kemasan terutama untuk membantu supermarket lebih baik mengelola perputaran stok. Ini sama sekali tidak memiliki implikasi nyata bagi konsumen.
Tantangan besar dalam mengurangi limbah makanan adalah membuat konsumen paham akan perbedaan ini. Sebab petunjuk tersebut masih sulit dipahami baik oleh industri makanan ataupun konsumen.
"Kita adalah masyarakat yang menghindari risiko lebih jauh. Pengecer dan produsen khawatir digugat. Sedangkan publik takut akan masalah kesehatan, listeria, dan E.coli. Karenanya kita memilih langsung membuang makanan apa pun, daripada harus mengambil risiko," tambah profesor Morgan.
(lus/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN