Studi yang dipublikasikan pada jurnal Appetite mengaitkan hubungan antara berbagi makanan saat masih kecil dengan perilaku tidak egois saat sudah dewasa. Orang yang berbagi makanan dengan keluarga cenderung lebih altruistik atau tidak mementingkan diri sendiri.
Peneliti dari University of Antwerp, Belgia melakukan survei pada 466 pelajar di sana. Partisipan ditanya seberapa sering mereka makan di rumah ketika masih anak-anak dan perilaku prososial (altruistik) mereka saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Charlotte De Backer, pemimpin penelitian, berbagi makanan membuat orang berpikir tentang keadilan (apakah saya mendapat sebanyak orang lain di meja?), otoritas (siapa yang pertama dilayani?) dan keserakahan (kadang saya tidak bisa mengambil sebanyak apa yang diinginkan secara pribadi). Mereka memahami gagasan kesetaraan, dimana setiap orang bisa makan makanan yang sama dan tidak ada yang dapat mengonsumsi semuanya.
"Negara-negara Asia memiliki tradisi kuat dalam berbagi makanan. Di negara Barat pun sebagian besar restoran Asia menyajikan makanan di piring besar untuk berbagi dengan semua orang yang duduk di meja sama," tutur Charlotte, seperti dilansir dari Time (08/11/2014).
Penelitian juga menegaskan perbedaan antara konsep "sharing a meal" dan "sharing food". Saat makan bersama keluarga dan teman, bisa saja tidak berbagi makanan yang sama karena menu dipilih untuk sendiri. Bila hal itu terjadi, maka pembentukan perilaku prososial tidak sekuat saat berbagi makanan.
Peneliti menambahkan bahwa anak-anak dapat mulai diajarkan tentang berbagi makanan. Sebab penting untuk menanamkan hal itu sejak kecil. Mereka belajar lebih awal mengenai sosialiasi, mengembangkan sikap sosial yang positif, serta menghargai makanan dan orang lain.
(msa/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN