Serangga Makanan Bernutrisi

Big Cricket Farms, Peternakan Jangkrik Pertama di Amerika

- detikFood Kamis, 04 Sep 2014 16:32 WIB
Foto: Getty Images // Big Cricket Farms Foto: Getty Images // Big Cricket Farms
Jakarta -

Di Tiongkok yang biasa dengan makanan aneh, konsumsi serangga bukanlah hal menghebohkan. Di Thailandpun serangga banyak dijajakan sebagai camilan. Berbeda dengan masyarakat Barat yang masih tak terbiasa dengan konsumsi serangga.

Bagaimanapun juga, beberapa pihak sudah berupaya mempopulerkan hewan ini sebagai makanan manusia. Salah satunya adalah Big Cricket Farms yang disebut-sebut sebagai peternakan serangga pertama di Amerika Serikat untuk konsumsi manusia.

Baru dibuka April tahun ini, Big Cricket Farms sudah kebanjiran pesanan dari AS, Australia, Islandia, Meksiko, dan Kanada. Produsen MRE (makanan siap santap) serta perusahaan vitamin atau suplemenpun menunjukkan ketertarikannya karena omega-3 dan omega-6 dalam jangrik cocok menggantikan minyak ikan.

Saat ini Big Cricket Farms bekerja sama dengan Six Foods di Boston untuk menghasilkan keripik dan cookies yang bahannya dicampur tepung jangkrik. Rasanya seperti camilan biasa, namun lebih kaya gizi karena tepung jangkrik mengandung 70% protein.

Big Cricket Farms beternak jangkrik di gudang tak terpakai seluas 465 meter persegi di Youngstown, Ohio. Wadah-wadah panjang di sana masing-masing bisa memuat 3.000 ekor jangkrik. Suhunya diatur 27-32 C dengan kelembapan 90%.

Tak sembarangan, jangkrik-jangkrik tersebut memakan pakan organik. Saat akan dimanfaatkan, hewan inipun digemukkan dengan pakan sayuran organik. Jangkrik dimatikan dengan dimasukkan ke freezer, sehingga jangkrik memasuki masa diapause.

"Tak ada rasa sakit neurologis di proses ini. Mereka perlahan melambat dan berhenti bergerak... Lalu kami menurunkan suhunya lebih rendah lagi dan mereka tak bisa hidup kembali," jelas Kevin Bachhuber, pendiri Big Cricket Farms, kepada situs Munchies (14/08/2014).

Hasilnya mengesankan: sekitar 1 kg makanan dan 3,8 liter air akan menghasilkan 1/2 kg jangkrik (sekitar 1.000 ekor). Ruang 2,2 meter persegi saja bisa menghasilkan 14 kg jangkrik setiap delapan minggu. Terbukti, jangkrik membutuhkan lebih sedikit air, ruang, lahan, dan waktu dibanding hewan ternak biasa. Ternak seranggapun menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih sedikit.

Sampai saat ini, serangga untuk konsumsi manusia di AS dibeli dari peternak serangga untuk pakan hewan. Bagaimanapun juga, menurut Bachhuber, sulit memastikan seluruh rantai pasokannya aman untuk konsumsi manusia. Sebab, pakan hewan tak diawasi secermat makanan manusia. Artinya, tak jelas serangga tersebut memakan apa.

Bachhuber berharap nantinya 5.000 jangkrik di peternakannya menghasilkan 1 juta jangkrik setiap empat minggu, cukup untuk memproduksi 113 kg tepung jangrik. Ketika gudangnya mencapai kapasitas penuh, ia berharap angka tersebut naik menjadi 700 kg.

(fit/odi)