Penurunan konsumsi daging anjing di Korea membuat Daegyo yang sudah hadir sejak 1981 akhirnya gulung tikar. Pemilik restoran, Oh Keum Il, menyajikan mangkuk terakhir boshintang pada Jum'at (29/08/2014) lalu.
Ia memilih menutupnya setelah menghadapi maraknya perdagangan daging anjing yang dikhawatirkan tidak legal atau secara eksplisit dilarang oleh hukum Korea Selatan. Sebab kontroversi mengenai konsumsi anjing semakin marak di Korea.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Oh Keum Il, penutupan juga dikaitkan dengan kurang minatnya kalangan muda Korea dengan boshintang.
"Ada terlalu banyak perbedaan generasi pada boshintang. Tidak ada pelanggan muda," tutur Oh Keum Il seperti dilansir dari AP (28/08/2014).
Banyak kalangan muda yang memilih konsumsi sup ayam saat hari terpanas. Mereka juga menghindari topik seputar konsumsi daging anjing secara terbuka. Oh Keum Il mengatakan generasi muda tumbuh dengan menyaksikan tayangan televisi yang menampilkan anjing sebagai hewan peliharaan. Karenanya minat terhadap daging anjing pun berkurang.
Pengalaman selama berpuluh tahun meracik daging anjing pun akan menjadi sejarah bagi Oh Keum Il. Ia sempat berkeliling Korea Selatan untuk belajar resep daging anjing dari tiap wilayah. Oh Keum Il bahkan sempat mencicipi berbagai sajian daging anjing dari Korea Utara saat menjadi delegasi bisnis.
Banyaknya pengetahuan akan daging anjing membuat restorannya tak hanya menyajikan boshintang. Berbagai menu daging sapi diganti dengan daging anjing. Seperti sajian bibimbap khas Korea.
Meski tidak ada data resmi, namun kini konsumsi daging anjing di Korea Selatan memang mengalami menurun. Bisnis perdagangan anjing sudah menurun setengah dari beberapa tahun lalu.
Restoran di Seoul dengan sajian daging anjing yang dulunya mencapai 1.500 sekarang tinggal 700. Dibanding daging anjing, kini bebek lebih banyak dipilih untuk menjadi sajian restoran.
(odi/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN