ADVERTISEMENT

Dari Manado Ada Racikan RW Pedas Gurih

- detikFood
Kamis, 14 Agu 2014 09:13 WIB
Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Tradisi menyantap daging anjing merupakan salah satu kuliner unik masyarakat Manado. Sajian ini dinikmati sebagai menu sehari-hari dan acara istimewa. Di daerah Manado angka konsumsi rw, tikus dan babi mengalahkan daging kambing dan sapi!

Sate Jamu atau sate berbahan daging anjing gurih boleh saja terkenal di Solo, tapi versi racikan daging berbumbu pedas mengigit lahir dari Manado. Di Sulawesi Utara, daging anjing umum disebut dengan nama rw kepanjangan dari rintek wuuk (buluh halus).

Tentunya daging rw hanya sebagian kecil daging ekstrim yang dikonsumsi masyarakat Sulawesi Utara. Di pasar tradisional, dijual daging yang tidak lazim dimakan seperti tikus ekor putih, babi, soa- soa, burung weris, kuskus, tarsius, rusa, yaki, babirusa, dan anoa.

Lie, (21) wanita asli Manado mengakui di tempat asalnya daging paling laku adalah babi, anjing, ayam. Selain itu, binatang hutan seperti kelelawar, monyet, rusa, dan babi hutan paling sering disajikan di santapan sehari- hari. Sebaliknya, daging kambing dan sapi tidak terlalu disukai.

“Biasanya masyarakat Manado memelihara sendiri anjing yang akan disantap. Atau jika ingin membeli di pasar satu ekor dibandrol harga sekitar Rp 500.000, harga dipengaruhi kualitas anjing saat dipelihara dan besar kecil ukurannya. 1 panggal dengan ukuran 20 x 50 cm diberi harga Rp 45.000 hingga 75.000,” tutur Lie kepada DetikFood (13/08/2014).

RW yang dijual di Manado banyak didatangkan dari daerah Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Selain Manado, pusat penjualan daging rw dan daging ekstrim lainnya bisa ditemukan di Pasar Tomohon. Pasar tersebut terletak di kota Tomohon yang ditempuh satu jam dari Manado dan terletak di kaki Gunung Mahawu dan Lokon.

Masyarakat biasanya menyajikan rw di pesta besar seperti pernikahan, ulang tahun, dan ucapan syukur. Tiap daerah di Minahasa punya racikan bumbu berbeda, bumbu rahasianya terletak di akar dan dedaunan yang ada di kebun atau hutan daerah tersebut dan resep rw biasanya diwariskan turun temurun.

Bumbu yang paling umum dipakai adalah woku dan rica- rica. Bumbu terbuat dari campuran bumbu jahe, kemiri, kunyit, serai, daun jeruk, dan daun kemangi. Sementara rica- rica dari cabai merah, cabai rawit, bawang putih, serta jahe.

Tapi, sebenarnya bagaimana rasa daging rw? Lie menambahkan penampilan, tekstur, dan aroma rw yang dipelihara sendiri adalah kombinasi dari daging yang lazim dikonsumsi.

“Teksturnya hampir mirip dengan daging sapi, tapi penampilannya seperti daging babi karena mempunyai lapisan lemak kulit. Aromanya tajam walau tak terlalu menyengat seperti daging kambing,” tambahnya.

(dni/odi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT