Menurut Kepala 'Studi Pangan: Makanan, Budaya, dan Kesehatan' Taylor's Toulouse University Center, Profesor Jean Pierre Poulain, frekuensi orang Malaysia bersantap di luar sangat tinggi. Hal ini dibuktikan lewat Malaysian Food Barometer (MFB) yang beberapa waktu lalu diluncurkan.
Setelah tinggal di Malaysia selama 28 tahun, Prof. Poulain melihat bahwa negara tersebut berubah sangat cepat. "Dalam bidang urbanisasi, perkembangan ekonomi, dan kemunculan kelas menengah, Malaysia mencapai apa yang Eropa dan Amerika Utara raih dalam lima generasi, dalam kurun waktu satu generasi saja," kata pria asal Prancis ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di awal tahun ini, Oxfam International melaporkan bahwa Malaysia termasuk negara dengan penduduk tergemuk di Asia Tenggara. Bahkan, jurnal The Lancet menyebutkan bahwa Malaysia adalah negara dengan tingkat obesitas paling tinggi di Asia.
Survei MFB menyebutkan bahwa dari dua kali makan, orang Malaysia setidaknya makan di luar sekali. Praktik ini mirip dengan di Amerika Serikat. Frekuensi tersebut lebih tinggi daripada di Inggris (1 dari 3), Italia (1 dari 4), Prancis dan Spanyol (1 dari 5), serta Jerman (1 dari 7).
Dari wawancara The Star Online (03/08/2014) dengan beberapa warga Malaysia, mereka bersantap di restoran atau membeli makanan dari luar untuk disantap di rumah karena sibuk. Panjangnya waktu kerja dan perjalanan rumah-kantor serta alasan tak mau merepotkan ibu atau nenek di rumah membuat mereka jarang menyantap masakan rumahan.
"Jika Anda jarang memasak, semakin banyak bagian dari makanan Anda yang tak Anda kontrol. Anda memberi tanggung jawab tersebut kepada orang lain. Karena itulah, restoran seharusnya berada di garda terdepan dalam memerangi obesitas," ujar Prof. Poulain.
Ternyata, persepsi makanan tergantung pada kondisi tempat tinggal orang bersangkutan. Masyarakat dari daerah yang modernisasinya rendah menganggap makanan sebagai kebutuhan. Namun, orang-orang dari wilayah yang sangat modern memandangnya sebagai kenikmatan.
"Makanan beralih dari kebutuhan pokok untuk mengisi perut menjadi ekspresi kebutuhan posisi sosial," kata Prof. Poulain.
Menurut Dekan Sekolah Perhotelan, Pariwisata, dan Seni Kuliner Taylor’s University Neethiahnanthan Ari Ragavan, memahami budaya makanan sebuah populasi adalah langkah pertama melawan obesitas.
"Jika Anda tak tahu budaya makan, kebiasaan sosial, dan psikis orang-orang, Anda tak bisa sekadar menduga cara terbaik mendidik mereka. Lewat budaya makan mereka, Anda bisa melihat penyebab obesitas. Strategi edukasi kebiasaan makan bergizipun bisa direncanakan untuk melawan obesitas," jelasnya.
Menurut Ragavan, program gizi yang dikembangkan di Eropa dan Amerika Serikat tak bisa ditransfer ke Malaysia tanpa mengalami penentangan sosiokultural dan efek berlawanan. Pesan kesehatan masyarakat perlu disesuaikan dengan konteks budaya dan sosioekonomi Malaysia.
Selain itu, karena bersantap di luar sangat umum di Malaysia, diperlukan program edukasi bagi pengelola restoran dan bisnis jasa makanan. Sebab, mereka bisa berkontribusi terhadap obesitas jika tidak menghasilkan makanan sehat. Saat ini pemerintah tak memiliki program semacam itu.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN