Ramainya perdagangan di Batavia saat itu membuat para pedagang Tionghoa memutuskan menetap di sana. Kuliner Tiongkokpun mulai melebur dengan budaya lokal lewat jalur perdagangan, kawin campur, dan peran pelayan-majikan.
Contohnya adalah kecap manis yang sering dipakai dalam semur dan pindang bandeng Betawi. Kecap (ke-ciap) yang diambil dari dialek Hokkien berasal dari Tiongkok antara abad ke-3 dan 5. Kecap asin berbahan kedelai ini disebut jiangyou.
Namun, setelah dibawa ke Pulau Jawa, kecap jadi manis karena diberi tambahan gula merah. Salah satu merek kecap manis yang sudah tersohor sejak dulu adalah kecap Benteng dari Tangerang.
Selain kecap, pengaruh Tionghoa paling jelas terlihat dari penggunaan mi dan bihun dalam masakan Betawi. Para utusan Tionghoa juga membawa bahan-bahan makanan lainnya yang kini cukup populer di hidangan Betawi, di antaranya tahu (tau-hu), tauge, juhi (jiu-hi), dan ebi (he-bi).
Sayuran seperti kucai (ku-chai), lokio (lou-kio), caisim, lobak, dan kailan juga berasal dari Tiongkok. Dari bahan-bahan ini, lahirlah sajian Betawi yang kini kita kenal seperti ketoprak, soto mi, tauge goreng, pecel bihun, asinan, bubur ase, dan laksa Jakarta.
Penggunaan ikan dalam masakan Betawi juga disebut-sebut mendapat pengaruh dari Tiongkok. Masyarakat China Benteng di Tangerang mengenal sajian ikan cing cuan, yakni ikan ekor kuning atau ikan pisang-pisang yang dimasak dengan tauco (tau-cioun). Ikan cing cuan biasa disajikan saat perayaan Imlek.
Sebagian kue tradisional yang sering dihadirkan pada acara Betawi juga terpengaruh budaya Tionghoa. Sebut saja kue ku (ang-ku-koe) dan kue sengkulun (sang-ko-lun).
Kue mangkok (hoat-koe) yang berwarna merah mencolok dan berukuran sebesar mangkukpun awalnya digunakan sebagai persembahan di altar. Kini, ukuran dan warnanya bervariasi.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN