Peran perempuan dalam akulturasi budaya, terutama kuliner, sangat penting. Hubungan antara perempuan lokal dan lelaki Eropa biasanya terjadi lewat perkawinan campur akibat minimnya gadis Eropa di Batavia. Bisa juga lewat peran pelayan dan majikan di keluarga Eropa.
Perempuan memegang peranan kunci dalam mengurus rumah tangga, mulai dari mengurus rumah, mengasuh anak, hingga memasak. Dari sinilah orang Eropa mengenal masakan Indonesia. Apalagi, perempuan lokal yang pandai memasak menyebarkan 'perkawinan' masakan Barat dan Indonesia lewat buku-buku resep.
Pengaruh Belanda dalam hidangan lokal yang paling banyak dibicarakan adalah semur. Semur berasal dari kata 'smoren' dalam Bahasa Belanda, yang berarti teknik memasak dengan api kecil selama beberapa lama (stew).
Teknik smoren dari Belanda dipadukan dengan rempah lokal dan kecap manis asli Indonesia melahirkan semur pada tahun 1600-an. Orang Betawipun memakai bahan lokal seperti terung dan jengkol. Biasanya, semur Betawi menjadi lauk nasi uduk atau nasi putih. Sedangkan semur daging disajikan di acara istimewa.
Namun, adapula yang berpendapat asal-muasal semur adalah hachee yang juga dikenal dengan sebutan Dutch stew. Rasa asin dan gurih hidangan asli Belanda ini berasal dari daging sapi, ikan, atau sayuran yang dimasak dengan bawang, wine, dan brown stock.
Olahan kentang seperti perkedel dan kroket juga rupanya mendapat pengaruh dari Belanda. Berasal dari 'frikadel' atau kentang yang dilumatkan. Kroket atau kroketjes dan risoles merupakan camilan khas Eropa yang kemudian menjadi camilan populer di Indonesia.
Begitu pula dengan kue-kue berbahan margarin, susu, keju, dan makaroni. Juga dadar gulung, makaroni skutel, dan roti buaya.Roti yang dibuat dari adonan tepung terigu, telur, mentega dan ragi ini oleh orang Betawi dibentuk menjadi buaya. Binatang ini dianggap melambangkan kestiaan. Karenanya dihadirkan dalam tiap acara pernikahan.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN