Belatung Akan Dikembangkan Jadi Pakan Hewan?

- detikFood Kamis, 05 Jun 2014 18:02 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Serangga telah dipertimbangkan sebagai salah satu solusi masalah kelaparan dunia. Tapi bagaimana dengan belatung? Saat ini dua perusahaan dunia mengembangkan ide untuk menyelipkan larva tersebut dalam rantai makanan dengan mengubahnya menjadi pakan hewan.

Konsumsi cacing dan serangga pada ayam dan hewan lainnya yang sudah dianggap umum diubah oleh perusahaan bernama AgriProtein. Awal bulan mereka menggalang dana $11 Juta (Rp 130.7 Milyar) untuk membangun peternakan skala komersil. Peternakan pertama berasa di Cape Town, Afrika yang akan memproduksi 20 ton larva dan 20 ton pupuk per hari.

Dalam produksinya mereka menggunakan lalat black soldier, blowfly, dan lalat biasa. Tiap jenis beradaptasi dengan beberapa pakan seperti makanan sisa atau busuk, tinja, dan limbah rumah potong hewan. Lalat jantan dan betina dikembangbiakkan dalam kandang besar. Telur mereka diambil, dikeringkan, dan digiling lalu dicampur dalam makanan. Sisa material kaya nitrogen dibuat menjadi kompos.

Produk Magmeal dari AgriProtein disetujui sebagai pakan ayam dan ikan di Afrika Selatan. Selain perusahaan tersebut, Enterra Feed Corporation dari Vancouver, Kanada akan memproduksi produk larva lalat black soldier tiga kali lipat untuk pakan hewan.

EnviroFlight yang berada di Ohio, Amerika Serikat juga memproduksi pakan ikan dari larva lalat black soldier. Protix Biosystems di Belanda juga berencana mengembangkan operasi peternakan lalat black soldier, lemak larva dijual untuk pakan hewan dan proteinnya untuk produsen pakan hewan peliharaan.

“Sangat penting untuk industri mengetahui batasan materi yang akan digunakan. Serangga bisa mengambil peran penting dalam menyediakan sumber nutrisi baru dalam dunia dengan permintaan makanan yang semakin tinggi. Namun, tidak bisa memecahkan masalah besar dalam sekejap,” tutur Kees Aarts dari Protix Biosystems.

Sayangnya, hukum di beberapa negara baru-baru ini tidak menyetujui pakan dari larva. Di Uni Eropa, protein larva bisa diberikan pada hewan peliharaan tapi bukan pada hewan yang akan dikonsumsi manusia.

Sementara di Ohio, Amerika Serikat hewan untuk bahan makanan boleh diberikan pakan dari larva. The Canadian Food Inspection Agency juga mempertimbangkan mempebolehkan protein dan lemak larva sebagai pakan ayam dan hewan ternak.

Terlepas dari kontroversi yang ada, Jason Drew selaku pemilik AgriProtein yakin bahwa larva baik untuk lingkungan dan mengembalikan hewan ternak ke pakan alaminya. Pesan tersebut dikatakan bisa menggaet masyarakat yang ragu.

“Di ladang, diet alami ayam terdiri dari lalat, larva, cacing, serta semut, dan trout liar kaya akan protein karena mengonsumsi serangga. Apa yang kami lakukan adalah kembali ke proses alami dan itu sesuatu yang dipahami orang secara cepat. 10 hingga 15 tahun kedepan akan menjadi industri global besar,” tutur Jason kepada BBC (05/06/2014).



(fit/odi)