Kulit ketupat biasanya baru mudah ditemukan di pasar tradisional menjelang Lebaran. Namun di daerah Palmerah, kulit ketupat tersedia sepanjang tahun. Di sini juga tersedia berbagai kreasi janur untuk pernikahan.
Sekitar 100 meter dari Pasar Palmerah, Jakarta Barat, ada deretan enam kios sederhana beratapkan terpal biru. Semuanya menawarkan dagangan yang sama: janur.
Beberapa ikat daun kelapa yang masih menempel pada batangnya diletakkan di luar kios. Menurut Anas, salah satu penjual yang sudah terjun di bisnis ini sejak tahun 2000-an, daun kelapa alias janurnya didatangkan dari Serang, Banten.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 500 meter dari tempatnya berjualan, ada perkampungan tempat orang-orang mengisi waktu dengan menganyam kulit ketupat. "Satu orang bisa membuat 400-500 buah kulit ketupat. Saya hanya menyediakan janur dan menjual kulit ketupat jadinya," kata Anas. Hasilnya adalah kulit ketupat yang besar-besar dengan kulit kuning kehijauan mengilat.
Selain ketupat, Anas juga menjual penjor, janur dekorasi yang biasa dipakai untuk pesta pernikahan. Ada yang kecil, ada pula yang besar seperti umbul-umbul untuk penanda lokasi pesta pernikahan.
"Harganya Rp 70.000-100.000, lengkap dengan batang bambu untuk memasangnya," ujar Anas. Karena tak punya kendaraan untuk mengantar pesanan, pelanggan biasa mengambil sendiri janur dekorasi yang mereka pesan.
Anas mengaku, pada tanggal-tanggal tertentu yang disebut sebagai 'tanggal baik' untuk mengadakan hajatan, ia kebanjiran pesanan. "Tergantung juga, tanggal muda atau tanggal tua," katanya.
Di kios lain, ada tikar yang terbuat dari anyaman janur hijau dan kuning. Tikar yang biasa dipakai untuk acara siraman ini dijual dengan harga Rp 100.000 untuk ukuran 1,5 x 1,5 meter.
Menurut Anas, tempatnya berjualan adalah sentra janur dekorasi terbesar di Jakarta. "Ada juga di Kebayoran dan Tanah Abang, tapi tak sebesar di sini," ujar Anas. Usahanyapun nyaris tak pernah tutup meski sudah larut malam maupun hari libur. "Soalnya saya tinggal di sini," katanya.
(fit/odi)