India adalah salah satu produsen teh terbesar di Indonesia dan lebih dari setengah hasil teh berasal dari daerah Assam. Tim ilmuwan dan penanam teh di timur laut India menyatakan suhu udara di area tersebut meningkat, periode kering semakin panjang dan pola hujan telah berubah.
“Saat ini kami menyadari beberapa tahun belakangan ini, kami mendapatkan banyak curah hujan dalam satu atau dua bulan sehingga mengikis tanah bagian atas perkebunan teh. Sementara itu, cuaca yang kering membuat teh rentan terhadap hama yang memicu pemakaian lebih pestisida dan berarti lebih banyak biaya,” tutur Manish Bagaria pemilik perkebunan teh di Dibrugarh, Assam selatan.
Karena periode cuaca kering lebih lama dan hujan deras sangat sebentar, beberapa perkebunan teh besar mulai menggunakan sistem irigasi untuk menghasilkan panen yang lebih baik. Langkah ini dinilai sangat maha. Karena banyak perkebunan teh yang hanya mengandalkan siklus curah hujan dan cuaca kering.
Prof. Arup Kumar Sarma dari Indian Institute of Technology Guwahati mengatakan ia dan tim nya mengobservasi hujan mulai berubah dan hal ini bisa mempengaruhi produksi teh.
“Musim hujan mulai sedikit terlambat pada bulan Juni dan Juli karena musim kering yang berkepanjangan, pekerja memetik teh di bulan Maret, sangat berbeda dengan pemetikan teh sudah ratusan tahun yang dilakukan pada bulan Februari,” tutur Prof. Arup Kumar Sarma.
Menurut India Tea Association, Assam memproduksi hampir 620 juta kg teh tahun lalu, meningkat dari 590 juta kg tahun 2012. Walaupun pedagang teh India mengatakan biaya produksi meningkat, mereka tidak bisa menaikkan harga produk karena kompetisi dengan pasar internasional.
Kompetitor utama India adalah Kenya dan Sri Lanka, para ahli menyatakan saat ini kondisi Sri Lanka tidak berbeda dengan Assam.
(dni/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN