Gastrodiplomacy, Ilmu Khusus Pelajari Makanan dalam Interaksi Bangsa

- detikFood Kamis, 27 Mar 2014 11:08 WIB
Foto: NPR
Jakarta - Jika ingin mengenal sejarah suatu bangsa, kenalilah makanannya. Inilah yang menjadi dasar dibukanya cabang ilmu baru, gastrodiplomacy. Dengan ilmu ini orang bisa mempelajari sejarah bangsa melalui makanannya untuk tujuan interaksi.

Masyarakat Amerika sangat sadar bahwa kebanyakan warnanya merupakan penduduk imigran dari negara lain. Mereka tahu bahwa bangsa mereka tidak mempunyai makanan khas negara sendiri, malahan makanan yang populer justru berasal dari pengaruh bangsa-bangsa lain.

Memperkenalkan makanan khas bangsa sendiri adalah cara yang paling mudah bagi setiap bangsa yang berimigrasi ke Amerika untuk bergaul dengan penduduk asli. Hal ini kemudian disebut dengan gastrodiplomacy.

Tanpa sadar, setiap bangsa yang mengunjungi Amerika telah melakukan diplomasi dengan tujuan tertentu. hal ini juga termasuk dalam ilmu hubungan internasional. Johanna Mendelson Forman, seorang ahli kebijakan konflik internasional mengajarkan program ini di American University.

Walau merupakan benda mati, makanan juga secara tidak langsung mendapat pengaruh terhadap keadaan si pemasak. Gastrodiplomacy juga mempelajari makanan yang mendapat pengaruh akibat perang Vietnam, perang Uni Soviet di Afghanistan, dan perang Ethiopia yang punya hubungan dengan bangsa Amerika.

Malahan, ada juga restoran mendapatkan inspirasi dari hal ini. Restoran ini hanya menyajikan makanan dari negara yang punya konflik dengan Amerika.
Sama seperti kita, makanan Indonesia juga mendapatkan pengaruh dari bangsa-bangsa yang pernah berinteraksi di masa lalu. Masakan Indonesia secara tidak langsung juga terpengaruh masakan Belanda, Jepang, China, India, dan Portugis.

Dalam gastrodiplomacy, para mahasiswa diharuskan untuk mencicipi semua makanan lokal dari berbagai etnis dan bangsa. Seperti saat melakukan perjalanan ke Georgetown, mereka mencicipi makanan Ethiopia yang mendapat pengaruh makanan Italia. Ethiopia pernah dijajah Italia pada tahun 1930.

Hal ini juga membuat seorang Leah Selim membuat Global Kitchen. Sebuah kelas memasak tempat para imigran dari berbagai bangsa yang mengajari orang Amerika memasak makanan khas bangsanya.



(fit/odi)