Hati-hati! Tiap Kali Makan Fast Food, Indeks Massa Tubuh Akan Naik 0,03

- detikFood Selasa, 04 Feb 2014 18:56 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Banyak orang tergoda fast food. Aroma gurih enak burger dan French fries yang menggugah selera sering membuat orang lupa akan nutrisinya. Sebaiknya berpikirlah dua kali untuk menyantap makanan ini.

Pasalnya, konsumsi makanan ini akan menambah Indeks Massa Tubuh (IMT) sebanyak 0,03. Indeks Massa Tubuh merupakan alat sederhana untuk mengetahui status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.

Penelitian di University of California, Davis telah menunjukkan bahwa IMT sesorang akan meningkat sebesar 0,03 setiap kali mereka makan makanan cepat saji.

IMT dapat dihitung dengan cara berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter yang dikuadratkan. Seseorang dengan IMT 18,5 sampai 24,9 tergolong normal, 25 sampai 29,9 kelebihan berat badan, dan lebih dari 30 obesitas.

Seperti dikutip dari Daily Mail (04/02/2014), para peneliti yang terlibat mengatakan pemerintah bisa memperlambat atau bahkan memperbaiki epidemi obesitas dengan mengambil langkah-langkah untuk mengatur konsumsi makanan cepat saji.

Studi ini merupakan yang pertama untuk melihat efek dari deregulasi dalam perekonomian dan hasil peningkatan konsumsi makanan cepat saji pada obesitas dari waktu ke waktu.

Ini menunjukkan bahwa jika pemerintah mengambil tindakan, mereka bisa mencegah obesitas yang dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang yang serius termasuk diabetes, penyakit jantung, stroke dan kanker.

Studi ini berfokus pada negara-negara berpenghasilan tinggi, tetapi temuan ini juga relevan untuk negara-negara berkembang. 'Karena hampir semua bangsa telah mengalami proses deregulasi pasar dan globalisasi terutama dalam tiga dekade terakhir," jelas Dr .Roberto De Vogli dari Departemen Ilmu Kesehatan di University of California, Davis.

Jumlah rata-rata tahunan konsumsi makanan cepat saji per orang meningkat di 25 negara berpenghasilan tinggi antara tahun 1999 dan 2008. Peningkatan paling tajam terjadi di Kanada, Australia, Irlandia, dan Selandia Baru, sedangkan peningkatan terendah ada di negara-negara dengan peraturan pasar yang lebih ketat, seperti Italia, Belanda, Yunani, dan Belgia.

"Studi ini menunjukkan, bagaimana kebijakan publik berperan penting dalam mengatasi epidemi obesitas,” tutur Dr Francesco Branca, direktur Departemen Gizi untuk Kesehatan dan Pembangunan di WHO. "Kebijakan menargetkan pangan dan gizi yang diperlukan di beberapa sektor termasuk pertanian, industri, kesehatan, kesejahteraan sosial, dan pendidikan." tambah Dr. Branca.

Para peneliti menyarankan pemerintah bisa membalikkan epidemi obesitas melalui kebijakan seperti memberikan insentif ekonomi untuk mendorong perusahaan menjual makanan sehat dan mengatur iklan makanan cepat saji.



(fit/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com